Hati Allah Yang Lembut

Renungan Rabu 3 April 2019, Hari biasa Pekan IV Prapaskah

(pada hari ini dimulai Novena Kerahiman Ilahi)

Bacaan: Yes. 49:8-15Mzm. 145:8-9,13cd-14,17-18Yoh. 5:17-30.

Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. (Yes. 49:15)

Ketika merenungkan teks Kitab Suci di atas, saya teringat pengalaman pertengahan Maret lalu ketika diminta menjadi pembicara di sebuah PDPKK di Surabaya. Beberapa waktu sebelumnya, dari pihak pengurus selalu mengirimkan pesan melalui WhatsApp, menanyakan apa temanya. Saya merasa ada inspirasi untuk berbicara tentang “iman” dan menyusun slide presentasinya, karena beberapa waktu sebelumnya tanpa slide presentasi dan dalam situasi yang mendadak di suatu PDPKK, saya merasa dibimbing untuk berbicara tentang “iman”. Tetapi menghadapi inspirasi ini, saya merasa berat dan segan, karena saat-saat itu saya sedang menghadapi masalah dan kesulitan, saya merasa tidak berdaya dan tidak mampu menghadapinya, apalagi ditambah jika harus berbicara tentang “iman”. Tetapi akhirnya saya jawab dan berikan tema tentang “iman” itu kepada pengurus.

Ketika PDKK tersebut mulai berlangsung, pada saat pujian, ada sebuah lagu pujian yang dinyanyikan “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang, yang hidupnya berkenan kepada-Nya…”. Sambil menyanyi dan berusaha menyadari isi lagu tersebut, tiba-tiba saya mendapat gambaran ketika saya menggendong bayi kami yang berusia pada saat itu hampir empat bulan. Saya begitu hati-hati menggendongnya dan dia juga merasa aman dan nyaman dalam gendongan saya. Seperti ada pengertian batin yang diberikan Tuhan kepada saya waktu itu: “Kalau saya sebagai papi, yang hanyalah manusia, berusaha menggendongnya dengan hati-hati dan penuh kasih; apalagi Allah Bapa di surga yang jauh-jauh lebih baik dari saya, karena Dia adalah Allah, demikian juga Dia hati-hati menggendong saya dan saya aman dalam gendongan-Nya”. Saya diingatkan akan sabda Tuhan dalam kitab nabi Yesaya :

“… kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.
Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu…” (Yes. 66:12-13)

Dari sini, saya berdoa dan berserah, juga pada waktu pelayanan itu, ketika harus berbicara tentang “iman”. Mungkin saya merasa galau, lemah dan rapuh, tetapi pelayanan itu adalah pekerjaan Tuhan, bukan pekerjaan saya, jadi terserah Dia saja, mau mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya pada waktu itu.

Demikian bacaan pertama pada hari ini mengingatkan kembali akan pengalaman ini, dan mari kita masuk dalam permenungan nabi Yesaya, baik dalam Yes. 49:15 dan Yes. 66:12-13. Di mana dalam dua teks Kitab Suci ini, Allah menggambarkan diri-Nya seperti seorang “ibu”. Memang tidak banyak dibicarakan, tetapi di antara para kudus, seperti St. Hildegardis, Pujangga Gereja, dianugerahi pengalaman rohani secara mendalam bahwa Allah seperti seorang “Ibu”, Dia mengasihi kita, seperti ibu yang mengasihi anaknya.

Seorang ibu mengandung, menyusui, menggendong, membelai dan mengasihi bayinya. Dan seorang bayi sangat bergantung total kepada ibunya, dia tumbuh dan berkembang dalam rahim ibunya, mendapat asupan makanan dari ibunya, ketika dalam rahim dan ketika masa menyusui.

Suatu ketergantungan total, maka jika Allah dalam kitab Nabi Yesaya menggambarkan diri-Nya seperti seorang ibu, maka betapa luar biasanya kasih Allah kepada kita dan betapa kita sungguh-sungguh bergantung total kepada Dia. Jika Allah sendiri telah mengatakan: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes. 49:15).

Maka dalam iman, kita percaya bahwa Allah tidak pernah melupakan kita, bahkan pada saat-saat berat hidup kita, pada saat kita tidak berdaya, Allah tidak pernah melupakan kita dan Dia menghibur kita, seperti bayi yang dibelai, digendong dan disusui oleh ibunya (bdk. Yes. 66:12-13).

Maka beriman kepada Allah, bukanlah soal iman saya besar atau kecil, kuat atau lemah, dsb. Iman bukan berpusat pada diri kita sendiri, tetapi iman haruslah berpusat kepada Allah, percaya kepada Allah sebagai pribadi, percaya semua yang diwahyukan Allah melalui Kitab Suci dan Ajaran Gereja, dan lebih dalam lagi menyadari ketergantungan total kepada Allah, seperti bayi yang bergantung total kepada ibunya, seperti yang disabdakan Tuhan sendiri: “sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh. 15:5). Amin. (ET)