Damai Sejahtera Bagi Kamu!

Renungan Senin 8 April 2019

Bacaan : Kis. 4:32-35 1Yoh. 5:1-6 Yoh. 20:19-31.

Yoh 20:19b Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Katlimat pertama yang diucapkan Yesus ketika menjumpai mereka adalah “damai sejahtera bagi kamu!”. Yesus memberikan damai kepada para murid yang sedang kalut dan was-was.

Wajarlah jika para murid  bersembunyi mengunci diri ketakutan, karena harapan dan cita-cita mereka telah mati terkubur bersama dengan kematian Kristus. Kesedihan dan keputusasaan mereka begitu dalam sehingga menghalangi  mata iman mereka untuk dapat melihat Kristus yang bangkit.

Tetapi itu hanya untuk sesaat, karena saat salam terucapkan, ada suatu kuasa yang menyertainya. Kuasa yang menyatakan bahwa damai tersebut memang bagi mereka, dan langsung ada perubahan radikal pada suasana hati karena damai sejahtera itu sungguh dapat menjadi milik mereka.

Sadarkah, bahwa  sebenarnya perkataan kita mempunyai dampak yang luar biasa? Ada tiga hal yang dapat kita perhatikan di saat damai sejahtera terucap dengan sungguh-sungguh dari mulut kita.

Pertama, bahwa Yesus telah mencintai kita terlebih dahulu, seperti yang dikatakan Rasul Paulus di Filipi 4:7 bahwa damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Di sini artinya bahwa Damai Tuhan telah turun dan kita rasakan terlebih dahulu sehingga saat bertemu dengan orang lain, kita melakukan hal yang sama dengan apa yang Yesus lakukan.

Yang kedua, damai sejahtera adalah perkenanan Tuhan dalam hidup yang diberikan secara spesial untuk kita terima. Di dalam Alkitab, damai sejahtera selalu dikaitkan dengan kehidupan. Hidup dan damai sejahtera berjalan beriringan (Rm 8:6). Bagaimanakah cara Yesus memeteraikan damai sejahtera bagi kita? Dengan jalan diri-Nya disalib. Itulah makna dari ganjaran. Melalui salib, Yesus menegakkan damai sejahtera bagi kita (Rm 5:1, Kol 1:20).

Ketiga, Allah ingin agar damai sejahtera-Nya juga dirasakan oleh orang lain melalui kita. Ini tak boleh diartikan bahwa siapa saja yang mendamaikan orang maka mereka dapat disebut anak-anak Allah. Tetapi berusaha menjadi pelaku terang dan garam dunia dengan jalan melakukan perbuatan yang menghasilkan buah (Gal 5: 22-23) dan berkenan di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, biarlah damai sejahtera tetap kita rasakan senantiasa, dengan firman Tuhan yang mengisi pikiran kita. Sehingga semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, itulah yang akan memenuhi pikiran kita (Fil 4:8). Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kita semua. Tuhan Yesus menyertai, Amin. amdg, vmg.