Tiada Yang Mustahil

Renungan Senin 25 Maret 2019, Hari Raya Kabar Sukacita

Bacaan: Yes. 7:10-14; 8:10Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11Ibr. 10:4-10Luk. 1:26-38

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk. 1:37-38)

Bagaimana kita boleh memahami melalui otak dan pikiran kita yang terbatas ini bahwa Allah menciptakan alam semesta, segala sesuatu, termasuk juga manusia hanya melalui firman-Nya yang penuh kuasa?

Bagaimana kita bisa berpikir dan memahami tentang peristiwa Abraham, bapa orang percaya, bahwa istrinya Sara yang sudah sangat tua dan mandul bisa melahirkan seorang anak perjanjian bernama Ishak?

Dalam peristiwa natal, bagaimana kita bisa memahami bahwa Maria yang masih perawan bisa melahirkan seorang bayi kudus Yesus yang tampil sebagai anak Allah, Allah dan Juru Selamat dunia?

Bagaimana kita bisa melalui otak dan pikiran kita yang terbatas, mengerti dan memahami banyak tanda-tanda mukjizat yang dilakukan Yesus seperti membangkitkan orang mati, bahkan Dia sendiri bangkit dari kematian dan naik ke surga?

Saudara terkasih, jangan coba-coba memahami Tuhan dan kuasa-Nya yang begitu besar dan ajaib dari kacamata dan otak pikiran kita yang terbatas ini. Tetapi mari pahami dan imani Tuhan dan kuasa-Nya, bersama dengan Roh Kudus, sehingga sungguh betul dan benar apa yang dikatakan oleh nabi Yesaya : “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes. 55: 8-9)

Pesan yang disampaikan adalah tidaklah mungkin manusia yang adalah ciptaan bisa lebih besar dan lebih berkuasa daripada Tuhan Allah yang menciptakannya. Dengan kata lain, tidak mungkin juga lebih besar periuk yang diciptakan daripada tukang periuknya. Kalau pemahaman teologis ini dipahami dan diimani semua umat ciptaan Tuhan, maka seharusnya tidak ada di antara kita manusia yang berani untuk sombong, angkuh dan menghakimi orang lain. Melainkan setiap orang hidupnya akan dipenuhi dengan kerendahan hati dan penyerahan total kepada kehendak dan perintah Tuhan.

Pertanyaan yang sama mungkin akan muncul ketika kita membaca bacaan injil hari ini. Bagaimana mungkin Maria, seorang Perawan, akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki? Hanya berkat ketaatannya itu, Bunda Maria, seorang hamba miskin dan sederhana, yang beroleh kasih karunia di hadapan Allah, menjadi adalah awal dari sebuah berkat. Meskipun kelihatannya sebagai manusia hal itu tidaklah mungkin terjadi.  

Luar biasa bukan, bagaimana Maria menerima dan mengimani apa yang disampaikan malaikat Gabriel. Secara adat istiadat dan budaya manusia, pengambilan keputusan ini pasti menimbulkan banyak risiko yang akan dihadapi. Dia pasti ditinggalkan oleh tunangannya Yusuf karena dia mengandung atau hamil sebelum mereka resmi menikah. Masyarakat dan keluarga  pun pasti mengucilkannya karena alasan yang sama. Tapi itu tidak diindahkan oleh Maria. Maria tegas memilih sikap apa yang diambil terhadap rencana Tuhan terhadap hidup dan masa depannya  yang disampaikan melalui Malaikat Gabriel. Pengambilan keputusan ini sungguh luar biasa, di mana dia lebih mencari atau lebih mengutamakan kehendak Kerajaan Tuhan daripada kehendak dunia dan manusia.

Dalam bulan keenam Allah menyuruh Malaikat Gabriel menemui Maria untuk menyampaikan pesan Allah, bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan hendaknya dinamai Yesus. Hal ini merupakan pengalaman baru bagi Maria yang menimbulkan ketakutan, (Lukas 1:30), tapi Allah tahu apa kebutuhan dari Maria. Maka Malaikat Gabriel juga memberitahu : “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.” (Lukas 1:36).

Maria pun boleh belajar dari Elisabet bagaimana pengalaman ketika mengandung dan melahirkan. Maria mengalami atau diproses untuk belajar mengatasi setiap kesulitan. Dan sama seperti Allah yang selalu menyertai Maria, Dia pun tidak akan pernah meninggalkan kita. Allah kita adalah Allah yang peduli dan menyertai setiap kita yang dipanggil untuk melayani.

Pada awal panggilan saya tahun 1998, Roh Kudus datang dan meminta saya untuk melayani. Saat itu, saya yang adalah orang yang “suam-suam kuku”, kaget dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yang dapat saya katakan saat itu hanyalah “Siap”. Setelah itu, Allah mulai memproses saya hingga saat ini. Dia selalu peduli dan mendampingi saya. Bersama Dia, tak ada satu pun hal yang mustahil.

Selamat menyambut Hari Raya Kabar Sukacita. 

Doa: Ya Bapa mampukan saya meniru teladan Bunda Maria, yakni ketaatan sebagai seorang hamba miskin dan sederhana yang menerima kasih karunia untuk mewartakan Kabar Sukacita, menjadi berkat bagi lingkungannya dan bagi dunia. Amin.

Tuhan Yesus Memberkati. (SWK)