Sudahkah Kamu Melakukannya Untuk-Ku?

Renungan Senin 11 Maret 2019

Bacaan: Im. 19:1-2,11-18Mzm. 19:8,9,10,15Mat. 25:31-46

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat. 25:40)

Di masa Pra Paskah ini gereja sudah mengajak kita untuk refleksi diri, masuk pada masa retret agung pribadi selama 40 hari. Aksi puasa pembangunan pun digalakkan sebagai bentuk aplikasi pertobatan umat. Bahkan Kristus menegaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan untuk orang yang paling hina maka kita sudah melakukannya untuk Dia. Kristus mengajak kita untuk semakin peka terhadap kebutuhan sekitar.

Cobalah untuk meletakkan gawai kita, kurangi keaktifan di media sosial atau sekalian pantang selama 40 hari. Mari mulai memperhatikan atau “melihat” anak-anak, orang tua, saudara, om, tante, oma, opa, sepupu-sepupu kita. Bagaimana “sebenarnya” keadaan mereka hari ini? Adakah mereka kekurangan sesuatu? Buka mata hati maka kita akan melihat “kehausan” mereka sesungguhnya adalah kasih sayang dan perhatian yang sudah semakin “langka”.

Seorang teman pelayanan di Persekutuan Doa pernah berbagi pengalaman. Tahun lalu dia memutuskan untuk puasa dan pantang aktif di media sosial (WA, FB, IG, Twitter, dll.). Untuk urusan pekerjaan hanya menggunakan telpon dan SMS. Seminggu pertama memang berat sehingga merasa “senewen”. Tapi selanjutnya ia sungguh menikmati kebersamaan bermain dengan anak-anak dan istrinya. Juga memperbaiki barang-barang yang rusak dan menyelesaikan begitu banyak pekerjaan yang terbengkalai selama ini. Bahkan bisa mengunjungi orang tuanya dan menyadari betapa bahagianya bisa melihat senyuman mereka. Belum lagi keponakan-keponakan yang beranjak dewasa ternyata membutuhkan teman “curhat”. Rupanya begitu banyak hal yang sudah terlewatkan selama ini. Pekerjaan di kantor, aktivitas di Paroki dan Persekutuan Doa sudah begitu menyita  waktu dan tenaganya. Yang tersisa pun malah “dirampas” oleh media sosial.

Ternyata “orang yang paling hina “ tidak hanya ada di luar, di dalam keluarga besar pun banyak. Hanya saja kita yang tidak (mau) melihat lebih dalam, mereka yang lapar, haus, telanjang, sakit, di penjara, baik secara jasmani ataupun rohani. Semoga di masa Pra Paskah ini kita bisa melayani Yesus lebih baik lagi di dalam keluarga besar. (LNO)