Perjumpaan Yang Menyelamatkan

Renungan Selasa 26 Maret 2019

Bacaan: Kel. 17:3-7 atau T.Dan. 3:25.34-43; Mzm. 95:1-2.6-9; Yoh. 4:5-42 atau Mat. 18:21-35

Dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juru Selamat dunia.” (Yoh. 4:42)

Setiap orang merindukan keselamatan, baik di dunia ini maupun setelah kematian. Mereka berlomba-lomba mencari keselamatan dunia dengan berbagai macam cara. Ada yang mencari aman dengan mendiamkan temannya yang berbuat jahat, ada yang ikut-ikutan melakukan sesuatu dalam memperoleh keselamatan menurut budaya pada umumnya, ada juga yang melakukan menurut suara terbanyak. Bahkan yang lebih ekstrem, ada yang meminta ‘keselamatan’ semu kepada kuasa-kuasa di luar Tuhan.

Bangsa Israel setelah dibawa keluar dari perbudakan Mesir oleh Musa, dalam perjalanannya menuju ke tanah Kanaan, merasa terancam keselamatannya ketika mereka mengalami kehausan air minum sehingga mereka memusuhi Musa. Penyertaan Allah bagi mereka tidak dipandang sebagai yang menyelamatkan karena mereka curiga dan selalu bersungut-sungut terhadap Allah (Kel. 17:3,7). Dampaknya, mereka tidak masuk ke tanah yang dijanjikan Allah kepadanya kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun (Bil. 14:30).

Dalam masa Retret Agung ini, kita diajak untuk mencabuti ‘ilalang’ dengan membersihkan diri dan hati dari aneka sungut-sungut, maupun kecurigaan atau keraguan terhadap penyertaan-Nya. Masa dan Meriba merupakan simbol keraguan akan penyertaan Allah. Hal yang sama, setiap sungut yang kita lontarkan adalah tanda keraguan akan keberadaan Tuhan. Ragu akan berkat, ragu akan masa depan, pekerjaan, usaha dan ragu akan berbuat benar.

Bacaan Injil hari ini, mengajak kita untuk belajar dari pengalaman perempuan Samaria yang berjumpa Tuhan Yesus di sumur Yakub. Meskipun awalnya kebutuhan jasmani yang dicari, namun dengan keterbukaannya kepada Tuhan Yesus, Yesus mengetahui kebutuhan dasar perempuan itu, yaitu keselamatan “Air Hidup”. Tanggapan positif perempuan inilah yang membawanya kepada perjumpaan yang menyelamatkannya, bahkan dia mengalami pembebasan dari ikatan dosa (mempunyai lima suami).

Orang yang mengalami keselamatan, hidupnya berbuah sehingga cara pandang terhadap keberadaan Tuhan juga berubah. Mari kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan keterbukaan, meninggalkan hidup lama yang mengikat kita seperti perempuan Samaria yang meninggalkan tempayannya, sehingga hidup kita dipulihkan, boleh menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, bahkan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga, di tempat kerja atau di mana pun kita ditempatkan, sehingga banyak orang berkata “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juru Selamat dunia” (Yoh 4:42).

Tuhan Yesus memberkati. (ECMW)