Mendengarkan Suara Tuhan

Renungan Selasa 19 Maret 2019

Bacaan: 2 Sam. 7:4-5a.12-14a.16 ; Mzm. 89:2-3.4-5.27.29 ; Rm. 4:13.16-18.22 ; Mat. 1:16.18–21.24a

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (Rom 4:18,22)

Mendengar kalau Maria tunangannya mengandung, Yusuf amat terpukul. Hatinya remuk. Harapan akan kebahagiaan buyar sudah. Dalam kekecewaannya, ia mempertimbangkan akan meninggalkan Maria dengan diam-diam. Dalam pergumulan batin yang berat dan dilematis, Yusuf tetap diam, ia mencari kehendak Allah. Dan dalam diamnya itulah Allah hadir, melalui malaikat-Nya. Ada problem di depan mata, ada kehendak untuk berpikir jernih dan ada keterbukaan pada kehendak Allah. Yusuf membuka diri untuk kehendak-Nya. Ketika ia mengatakan “ya” kepada malaikat Allah, hal besar terjadi. Ia menggenapi nubuat tentang Mesias yang lahir dari keturunan Daud.

Tuhan sering memberi pralambang dan tanda untuk suatu tugas perutusan, lewat mimpi, tanda alam, peristiwa dalam hidup kita, melalui sesama kita, atau bisikan suara hati. Merenungkan kisah Yusuf, saya memiliki suatu pengalaman tentang pendirian TK Katolik di suatu stasi. Bermula dari ada seorang anak Katolik yang sekolah di sekolah saudara kita yang muslim, sehingga saat sekolah minggu anak tersebut berhijab. Melihat kejadian itu, ibu-ibu WK gelisah akan iman kristiani anak-anak di stasi tersebut, sehingga mereka meminta untuk mendirikan TK Katolik di stasi tersebut.

Kami ibu-ibu WK paroki menyampaikan keinginan ibu-ibu dari stasi tersebut pada Romo paroki, dan Romo menyatakan bahwa jika ingin mendirikan TK harus ada umat yang mau berkurban untuk menanggung kekurangan biaya operasional TK itu secara rutin. Mendengar itu kami mulai ragu-ragu untuk mengusahakan pendirian TK tersebut. Namun dalam pergumulan kami, melalui seorang katekis yang menyatakan bahwa jika tidak ada yang mau berkurban, maka dua puluh atau dua puluh lima tahun lagi gereja stasi tersebut akan kosong. Pernyataan katekis tersebut mendorong kami untuk berjuang mendirikan TK Katolik di stasi yang mayoritas penduduknya umat Katolik.

Diingatkan akan rIsiko yang akan terjadi dan dengan berbekal iman pada kuasa Yesus, maka kami umat paroki dan stasi membentuk panitia pembangunan TK dan meminta dua orang umat stasi untuk belajar pada TK Santa Maria Blitar, yang kelak akan menjadi pengajar pada TK Katolik di stasi tersebut. Dan sungguh kami merasakan, betapa besarnya karya dan penyertaan Tuhan dalam proses penggalian dana, izin untuk pendirian TK, siswa yang mendaftar dan guru yang siap mengajar. Bahkan saya sungguh bersyukur karena bisa terus merasakan dan mengalami pertolongan Tuhan yang tak pernah terlambat saat biaya operasional di TK itu tidak cukup. Ada bermacam-macam cara Tuhan untuk mencukupkan biaya operasional TK tersebut. Sejak tahun 2002 sampai saat ini, berulang kali Tuhan menyatakan kepedulian-Nya pada kami umat-Nya. Melalui TK Indriasana IX tersebut, kami umat paroki, stasi dan pengurus Yayasan serta para pengajar semakin diteguhkan bahwa dengan membuka hati, mendengarkan suara Tuhan dan dengan tulus melayani, berani berkurban dan berbagi, kami semakin merasakan kasih dan kuasa Allah dalam hidup kami.

Allah menuntun kami seperti Allah menuntun Yusuf. Dan kami mau tetap berharap pada Allah seperti bapa Abraham, bapa orang beriman itu. Tetap berharap kepada Allah walaupun tak ada dasar  untuk  berharap. Karena Tuhan adalah kasih setia bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya.

Doa: Tuhan Yesus, seringkali badai datang menerpa hidupku tanpa diduga seperti Yusuf, seringkali aku kecewa dan amat terpukul. Namun aku percaya, setiap kali aku jatuh, Engkau datang menolong aku. Tolonglah aku untuk selalu peka mendengarkan suara-Mu, saat aku dirundung masalah. Amin. (MLEN)