Menaruh Harapan Pada Kehendak Tuhan

Renungan Rabu 20 Maret 2019

Bacaan: Yer. 18:18-20Mzm. 31:5-6,14,15-16Mat. 20:17-28

Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” (Mat. 20:21)

Ibu anak-anak Zebedeus meminta kedudukan yang istimewa di dalam Kerajaan Yesus kelak bagi kedua anaknya. Permintaan ini pasti terdorong oleh perasaan cinta. Wajar bagi setiap ibu menginginkan anaknya menjadi orang besar dan terhormat status sosialnya. Tak jarang untuk mencapainya segala usaha dilakukan.

Bertolak dari ketidakpahaman seperti halnya ibu anak-anak Zebedeus, sebagai seorang ibu, saya pun berbuat demikian juga. Selepas menyelesaikan S1-nya, anak saya menyatakan keinginannya masuk biara, tetapi saya dorong meneruskan kuliah sesuai kehendak saya. Tanpa mempedulikan keluhan-keluhannya, saya yakin dia akan menyukai pekerjaan itu kalau sudah menikmati hasilnya.  Puncaknya, dia mengatakan berniat melepaskan pekerjaannya. Hati saya berontak dan tidak dapat menerima niatnya. Begitu berat salib ini menindih pundak saya. Saya bersyukur bahwa hal ini terjadi setelah lama saya berkecimpung dalam komunitas Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP). Roh Kudus menyadarkan bahwa semua itu dilakukan anak saya hanya karena rasa bakti saja.

Cinta seorang ibu yang proporsional akan mendewasakan anak, membiarkan yang dicintai berkembang sesuai dengan kepribadiannya demi suatu nilai yang lebih tinggi dan berguna bagi banyak orang. Namun cinta buta sang ibu, akan berkurang nilainya bilamana disertai tendensi meskipun dengan berbagai alasan pembenaran. Padahal apakah hakikat kedudukan dalam Kerajaan Yesus? Tak ada yang istimewa menurut ukuran dunia, karena kedudukan itu melekat erat dengan pelayanan.

Bacaan hari ini sekali lagi mengajak saya untuk merenungkan, sebagai pengikut Kristus saya dipanggil untuk melayani. Kata kunci dalam melayani adalah kepedulian, peduli akan kebutuhan orang lain. Kepedulian ini tak akan terwujud tanpa adanya kerendahan hati, rasa rela berkoban dan kesetiaan mengikuti Yesus dalam situasi apa pun. Di sinilah peranan salib Kristus. Iman Kristiani selalu melekat dengan salib, dan yang berhak mendapat kedudukan dalam Kerajaan Yesus adalah yang setia pada salib. Saya ikut komunitas pelayanan, tetapi bagaimana pelayanan saya dalam keluarga sendiri? Karena kesombongan dan harapan yang tinggi, saya sudah salah menerapkan otoritas terhadap anak sendiri tanpa berani memanggul salib.

Doa: Tuhan Yesus yang Maha Pengasih, ampunilah aku yang dalam hidup ini masih sering tergoda untuk terus berusaha mencari status sosial yang tinggi. Dalam masa pertobatan ini, aku mohon Tuhan, ubahlah pikiran dan perasaanku agar aku sungguh-sungguh menjadi orang yang rendah hati dan dapat melihat kenyataan hidup serta mau melayani di mana pun aku berada, di luar rumah maupun di dalam keluarga sendiri. Amin. (LKM)