Luapan Hati

Renungan Minggu 3 Maret 2019, Hari Minggu Biasa VIII

Bacaan: Sir. 27:4-7Mzm. 92:2-3.13-14.15-161Kor. 15:54-58Luk. 6:39-45

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya. (Luk. 6:45)

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Melalui bacaan liturgi hari ini, kita diajak untuk merenungkan sifat-sifat yang ada dalam diri kita saat ini. Itu semua dapat diketahui melalui perkataan kita. Begitu juga dalam relasi dengan orang lain, kita dapat mengenal seseorang melalui perkataan yang keluar dari mulutnya (Sir. 27:4-7).

Contoh:

  • Seorang yang memiliki hati yang sabar, akan tercermin dari perkataannya yang tenang dan memberikan kedamaian.
  • Jika menghadapi sesuatu dan cenderung selalu berkata “Pasti ada jalan keluar, akan bisa diatasi” dan sebagainya, adalah cerminan seseorang yang optimis.
  • Jika cenderung selalu berkata “Tidak mungkin bisa, susah, tidak akan berhasil”, dan sebagainya, adalah perkataan seseorang yang pesimis.
  • Jika perkataan seseorang cenderung bernada tinggi, adalah cerminan seorang yang pemarah.
  • Jika kata-kata seseorang cenderung menyakiti hati orang-orang di sekitarnya, itu adalah cerminan seseorang yang luka batin dan hatinya penuh dengan kepahitan.
  • Jika ada seseorang yang selalu mengecilkan keberhasilan orang lain dan menonjolkan dirinya sendiri, itu adalah cerminan dari luapan hati yang penuh dengan rasa iri hati.

Ada sebuah kisah. Suatu hari, saat jam istirahat sekolah, ada beberapa anak yang duduk di lantai dan sedang bermain bersama. Seorang anak mengubah posisi duduknya dan meletakkan satu telapak tangannya di belakang tubuhnya. Pada saat yang hampir bersamaan, lewatlah Kepala Sekolah di belakang anak tersebut sehingga tangan si anak terinjak olehnya. Luapan kemarahan dan caci maki keluar dari mulut Sang Kepala Sekolah kepada anak ini, di hadapan teman-teman si anak. Si anak terhenyak dan menjadi trauma. Sungguh menyedihkan. Kepala Sekolah yang sehari-harinya mengenakan pakaian seorang rohaniwati, ternyata hati dan mulutnya jauh dari apa yang tampak pada penampilan luarnya, bahkan bertolak belakang.

Sekedar hanya beragama tidaklah cukup. Bahkan jika ditambah dengan penampilan luar yang hanya bertujuan untuk memamerkan identitas kesalehan rohani, semuanya tidak akan berguna kalau ternyata hati dan mulutnya jauh dari hal itu.

Lalu apa yang perlu kita lakukan, agar luapan hati yang keluar melalui mulut kita, benar-benar sesuai dengan status kita sebagai anak Allah?

Kita perlu menerapkan Firman Allah, seperti yang diberikan oleh Santo Paulus kepada umat Kristiani di Korintus, agar tubuh yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa, yaitu hidup karena kebangkitan Kristus, hidup karena kemenangan Yesus Kristus. Berdiri teguh dalam persekutuan dengan Tuhan, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan (1Kor. 15:54-58). Kita buang semua yang tidak sesuai dengan Sabda Tuhan, agar tidak menjadi buta secara rohani, dan kita menjadi pohon yang menghasilkan buah yang baik (Luk. 6:39-45), serta memiliki hati yang bersih, sehingga luapan yang keluar dari mulut kita hanyalah berisi nyanyian syukur dan mazmur, serta pengakuan dan pengagungan akan Tuhan (Mzm 92).

Doa: Allah Roh Kudus, tolonglah kami agar mampu membuang semua sampah yang ada dalam hati kami dan menjadi intim dalam persekutuan dengan Tuhan, sehingga mengalirlah luapan hati yang memberikan kesaksian bagi kemuliaan nama Tuhan saja. Demi Kristus Tuhan kami. Amin. (HLTW)