Iman Seperti Abram

Renungan Minggu 17 Maret 2019, Hari Minggu Prapaskah II

Bacaan: Kej. 15:5-12,17-18Mzm. 27:1,7-8,9abc,13-14Flp. 3:17-4:1 (Flp. 3:20-4:1); Luk. 9:28b-36

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Kej. 15:6)

Selama hampir dua bulan pasca operasi, luka bekas dua kali operasi di perut anak saya yang mengalami infeksi, belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Beberapa jahitan terinfeksi, sehingga berlubang di tiga lokasi yang berbeda, dengan lebar dan kedalaman yang berbeda pula. Salah satu lukanya cukup lebar dan dalam sehingga terpaksa harus dimasuki tampon sepanjang 5 cm x 2 meter untuk menyerap cairan yang terus keluar dari dalam luka itu, supaya lukanya cepat kering dan jaringan granule tumbuh. Jujur saya merasa sedih karena sudah dua bulan kondisi lukanya masih seperti itu. Tetapi apalah yang dapat saya lakukan selain menjalani dan merawatnya, terus berdoa memohon belas kasih dari Tuhan untuk anak saya, supaya masalah luka itu segera dapat teratasi.

Hari itu Jumat, waktunya periksa ke dokter. Dokter melihat luka infeksinya sudah mulai tampak lebih baik, memerah karena jaringan granule mulai tumbuh, berarti luka bagian dalam sudah mengering. Dokter kemudian menginstruksikan untuk tidak perlu dipasang tampon lagi dan hari Senin minggu berikutnya untuk datang periksa lagi karena dokter akan menjahit salah satu luka paling lebar dan paling dalam supaya bisa menutup dengan bagus. Meski untuk dapat menjahitnya harus dibuat sayatan terlebih dahulu. Mendengar kata sayatan, hati saya miris, mengingat sudah dua kali anak saya menjalani operasi laparatomi. Seorang teman mengingatkan saya untuk melakukan doa profetik. Akhirnya saya terus berdoa dan mengimani Tuhan Yesus sudah menutup dan menjahit luka itu dengan rapi, sehingga dokter tidak perlu melakukan sayatan dan tidak perlu menjahit lagi.

Hari Senin kami periksa lagi ke dokter. Ketika pembalut luka dibuka, kami berempat, dokter, suster, saya dan anak saya terpana saat melihat  luka yang semula paling lebar dan paling dalam itu sudah menutup dengan rapi. Sungguh karya Allah yang luar biasa menakjubkan bagi saya. Betapa hati ini bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena untuk yang kesekian kalinya mukjizat dialami oleh anak saya. Apa yang kami minta dan imani dalam doa, Tuhan dengar dan kabulkan hanya dalam waktu tiga hari. Dan ini adalah kesaksian kami yang kesekian kalinya akan kuasa dan belas kasih Tuhan ketika kami tak berdaya dan hanya mengandalkan pertolongan Tuhan semata.

Sama seperti yang dialami Abram yang sudah tua umurnya. Apalagi istrinya juga sudah tua dan dinyatakan mandul pula. Tuhan justru berjanji akan memberikan apa yang mereka rindukan, pada saat mereka sudah merasa tidak mungkin hal itu terjadi (Kej. 15:2-4). Dan Tuhan bukan hanya berjanji, Dia menepati janji-Nya, membuatnya menjadi kenyataan. Ketika Abram berusia seratus tahun dan istrinya berumur 90 tahun, lahirlah Ishak anak kandung mereka. Iman Abram yang percaya kepada sabda Tuhan, diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran (Kej. 15:5-6).

Kisah Abram ini ditegaskan kembali di dalam Perjanjian Baru: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk 11:24).

Iman memang harus terus diteguhkan agar bertumbuh dan semakin kokoh. Karena terkadang ketika  kita menghadapi suatu keadaan, yang membuat kita seakan tak berdaya, seringkali kita menjadi lupa bahwa kuasa Tuhan melampaui segala sesuatu. Inilah pentingnya membaca dan merenungkan sabda Tuhan setiap hari.

Dengan setia membaca dan merenungkan sabda-Nya setiap hari, kita akan selalu ingat pada janji Tuhan yang akan memberikan kekuatan ketika kita menghadapi persoalan di dalam kehidupan kita. Sehingga ketika kita berada di tengah suatu persoalan, kita mampu berdoa seperti yang diajarkan oleh Tuhan sendiri, yaitu berdoa dengan penuh iman seolah Tuhan sudah mengabulkan doa kita, sehingga terjadilah seperti yang kita imani. Sebab di dalam doa ada rasa syukur, ada ucapan terima kasih, dan ada kerendahan hati untuk mengakui kuasa Tuhan atas hidup kita. Dan terlebih lagi, itulah janji Tuhan kepada kita. Amin. (ANS)