Godaan Iblis

Renungan Minggu 10 Maret 2019, Hari Minggu Prapaskah I

Bacaan: Ul. 26:4-10Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15Rm. 10:8-13Luk. 4:1-13

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. (Luk. 4:1-2a)

Dalam perikop ini kita bisa melihat pola iblis dalam menggoda Yesus, yaitu:

  • Keingingan Daging

Dimulai dari kondisi tubuh yang lemah dan lapar, setelah puasa 40 hari 40 malam lamanya di mana tidak ada makanan yang masuk ke dalam perut Yesus. Keadaan tersebut merupakan situasi yang sangat tepat untuk digodai, dicobai oleh iblis agar seseorang jatuh dalam dosa. Bagi Yesus, begitu banyak alasan untuk mengikuti perintah iblis, agar mengubah batu menjadi roti ,”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Iblis tidak berkata karena engkau lapar, tetapi “Jika Engkau Anak Allah”. Maksudnya adalah iblis menggoda Yesus untuk menyalahgunakan kuasa dan wewenangnya sebagai Anak Allah. Namun Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Luk. 4:4). Dalam kehidupan sehari-hari saya seringkali jatuh dalam dosa karena tidak tahan akan godaan, ketika lelah mudah emosi, ketika tidak dihargai mudah tersinggung. Iblis sangat mengetahui ketika kita lemah sehingga karena emosi, tanpa sadar kita mengandalkan kekuatan kita sendiri.

  • Keangkuhan Hidup

Selanjutnya iblis menggoda Yesus dengan cara menjatuhkan tubuh-Nya ke bawah dari bubungan Bait Allah. Sekali lagi iblis mengatakan ungkapan “Jika engkau Anak Allah”, dengan maksud tersembunyi agar Yesus menyalahgunakan wewenang-Nya sebagai Mesias, sebagai Anak Allah, dengan menunjukkan aksi spektakuler seperti sirkus akrobat yang mencengangkan. Jalan Yesus bukan jalan pintas untuk mencari popularitas, semua mukjizat yang Yesus lakukan bukanlah untuk mencari popularitas. Yesus mengatakan, “Ada pula tertulis: Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu.” Di sini kita bisa belajar bahwa manusia secara kejiwaan itu ingin merasa hebat, merasa jagoan, merasa paling bisa, menganggap dirinya paling pintar sehingga tidak mau disalahkan atau bahkan salah pun tidak mau mengakuinya, karena gengsi.

  • Keinginan Mata

Setelah iblis gagal menggodai Yesus pada pencobaan tingkat perut dan jiwa, iblis menyerang langsung dengan memperlihatkan kemegahan dunia, agar Yesus menyembah iblis dengan iming-iming kerajaan dunia dan kemegahannya (Luk. 4:8-10). Dari mata turun ke hati, ini yang pernah saya alami dan membuat saya masih jatuh dalam dosa.

Apa yang ditawarkan dunia sampai yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:16) telah ditawarkan oleh Iblis kepada Yesus kurang lebih dua ribu tahun yang lalu dan dengan tegas Yesus menolak: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” 

Pencobaan yang Yesus alami di padang gurun adalah sebuah pola atau paradigma iblis untuk pencobaan-pencobaan yang kemungkinan besar kita akan alami dalam hidup kita, sekalipun sebagai anak-anak Allah yang dipelihara-Nya. Iblis menyerang tiga unsur manusia yaitu tubuh, jiwa, roh dengan tujuan tersembunyi agar kita tidak menyembah Allah tapi menyembah iblis. Mengalami pencobaan bukanlah dosa tapi jatuh dalam pencobaan barulah dosa. Kalau Yesus sebagai manusia sejati bisa mengalahkan iblis dengan godaannya yang terus menerus bertingkat, begitu juga kita, murid-murid-Nya seharusnya bisa mengalahkan godaan iblis.         

Supaya kita bisa menang melawan godaan iblis, maka kita harus:

  1. Hidup dalam Roh yang akan memberikan kekuatan dalam melawan godaan iblis.
  2. Merenungkan dan menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan yang merupakan pelita dalam setiap langkah kita.

Tuhan Yesus memberkati. (SWW)