Menggunakan Waktu Dengan Bijak

Renungan Sabtu 16 Februari 2019

Bacaan: Kej. 3:9-24Mzm. 90:2,3-4, 5-6,12-13Mrk. 8:1-10

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mzm. 90:12)

Beberapa hari yang lalu saya baru saja berkumpul dengan keluarga besar dalam rangka merayakan tahun baru imlek. Masing-masing saudara tentu saja membawa serta seluruh keluarganya. Di tengah-tengah pertemuan ini kami melihat foto-foto yang diambil kira-kira 20 tahun silam, sehingga kami melihat anak-anak dan keponakan kami masih balita, juga ada yang masih bayi. Ketika itu saya merasa diingatkan betapa waktu itu seakan berpacu dengan cepat, di mana serasa seperti dua tahun berlalu saja, karena mereka sekarang sudah menjadi dewasa, ada yang sudah menikah dan mempunyai anak.

Sungguh, waktu berjalan begitu cepat, tepat seperti dikatakan pemazmur “..sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin bila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. (Mzm 90:4-5)

Oleh sebab itu pemazmur memohon agar Allah mengajar menghitung hari-hari yang tersisa dalam hidup kita ini sedemikian, hingga kita beroleh HATI yang BIJAKSANA. Dengan sikap hidup yang bijaksana orang akan mempergunakan waktu yang hanya seumur jagung di dunia yang sementara dan fana ini bukan untuk hal-hal yang sia-sia belaka, untuk kepentingan diri, kemalasan dan kenikmatan daging lainnya, tetapi hendaknya mengelola setiap waktu yang ada sebagai suatu kesempatan berharga untuk berbuat kebajikan yang nyata bagi banyak orang dan kemuliaan Tuhan.

Juga melalui bacaan pertama (Kej. 3:9-24) kita menyadari bahwa sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia dihukum dan seharusnya binasa selamanya. Namun karena kasih setia-Nya, Allah menganugerahkan putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dengan memberi hidup sejati yang ditegaskan dalam Injil hari ini, Yesus tergerak oleh belas kasih-Nya memberi makan roti kepada empat ribu orang agar mereka tidak kelaparan dan hidup bahkan hidup berkelimpahan (tersisa tujuh bakul roti).

Maka mengingat betapa cinta Tuhan yang tak terbatas di mana Dia menganugerahkan KEHIDUPAN, seyogianya kita dapat menggunakan waktu yang ada dengan bijak, karena waktu berlalu cepat dan tak pernah kembali. 

Saudaraku, tak pernah ada kata terlambat, berapa pun usia kita, untuk memutuskan saat ini (bukan nanti), bahwa kita mau mengatur waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan.

Doa: Ya Bapa, ajarlah kami untuk menghitung sisa hari-hari kami ke depan dengan lebih bijaksana sehingga kami senantiasa bersyukur dengan mempergunakan setiap detik waktu yang tersisa sebagai karunia kehidupan dari-Mu. Jadikanlah kami berkat bagi sesama dan membawa terang Kristus di mana pun kami berada.  Demi Yesus Kristus Tuhan, Pengantara dan Juru Selamat kami. Amin. (MM/33)