Mematikan Benih Dosa

Renungan Senin 18 Februari 2019

Bacaan: Kej. 4:1-15,25;Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21Mrk. 8:11-13

Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu. Dosa itu sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. (Kej. 4:7)

Allah lebih berkenan pada persembahan Habel dibanding dengan persembahan Kain dan membuat hati Kain menjadi panas karena iri hati dan dengki. Allah mengetahui kekecewaan Kain dan karena kasih-Nya Allah mengingatkan Kain agar segera dapat menguasai hati dan meredam kedengkiannya. Namun Kain mengabaikan dan jatuhlah Kain dalam dosa pembunuhan adiknya Habel. Tidak berhenti sampai di situ, Kain melanjutkan dosanya dengan penyangkalan di hadapan Allah dan akhirnya Allah membuang Kain. Peristiwa kelam ini dicatat sebagai kejatuhan manusia yang kedua dan pembunuhan yang pertama dalam sejarah manusia.

Saya teringat pada sebuah novel yang diterbitkan tahun 1994 yang berjudul “A Simple Plan” yang dikarang oleh Scott B. Smith. Dikisahkan pada suatu pagi bersalju, tiga orang lelaki: Hank beserta adik dan seorang temannya, secara tidak sengaja menemukan pesawat yang jatuh di tepi hutan. Mereka mendapati pilot pesawat tersebut telah meninggal dan menemukan sebuah tas yang berisi uang tunai sebesar USD 4,4 juta, sebuah jumlah yang sangat besar. Sebuah ide kecil dan ragu-ragu muncul dari salah seorang yang mengusulkan mengambil uang tersebut untuk kepentingan mereka sendiri. Ide ini awalnya ditolak mentah-mentah oleh Hank, tetapi penolakan yang tidak tegas ini malah  makin menimbulkan sikap perlawanan yang lebih kuat dari keduanya. Akhirnya ketiganya sepakat menyimpan uang tersebut dengan kondisi bahwa disimpan untuk sementara oleh Hank, sampai situasi aman dan mereka bisa menggunakannya secara adil.  Dalam sekejab dosa pencurian dan rencana yang tampak sederhana bergulir menjadi tumpukan dosa dan pembunuhan demi pembunuhan termasuk antar sesama teman/saudara tadi.  

Bacaan ini mengingatkan akan pentingnya untuk segera menghentikan pikiran jahat selagi pikiran tersebut masih berupa godaan atau benih, karena jika tidak, benih dosa ini akan segera bergulir menjadi dosa-dosa lain yang lebih besar. Roh Kudus yang hidup dalam diri kita, akan segera mengingatkan bahaya godaan dan dosa tersebut – sama ketika Allah hadir mengingatkan Kain.

Benih dosa atau godaan itu tidak bisa dipungkiri atau diabaikan. Godaan harus disadari keberadaannya dan karena itu harus dihadapi dengan kekuatan akal budi (the mind – intelligent) dan penguasaan kehendak kita (the will – the heart).

Doa: Ya Allah, terima kasih telah menganugerahkan Roh Kudus untuk tinggal dalam diri kami. Mampukan kami untuk mengenali suara kasih-Mu yang selalu menuntun kami. Kuatkan kami untuk mengalahkan godaan yang setiap saat selalu datang di hadapan kami dengan segala kekuatan akal budi dan kehendak kami, sehingga pada akhirnya kami layak menghadap, menatap dan menyapa-Mu: “Selamat pagi Allah Bapa, Putra, Roh Kudus.” Amin. (LSL)