Ketaatan Kepada Allah Dan Hukumnya

Renungan Sabtu 2 Februari 2019, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Bacaan: Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18Mzm. 24:7,8,9,10Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32)

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. (Luk. 2:22)

Pada hari ini bersama seluruh Gereja, kita merayakan pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah.

Berikut kita melihat arti dan makna perayaan ini sebagaimana yang diajarkan Gereja Katolik melalui Katekismus Gereja Katolik (KGK) :

KGK 527
Penyunatan Yesus, pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya (Bdk. Luk 2:21), adalah suatu bukti bahwa Ia termasuk dalam keturunan Abraham dalam bangsa perjanjian, bahwa Ia takluk kepada hukum (Bdk. Gal 4:4) dan ditugaskan untuk ibadah Israel, yang dalamnya Ia akan mengambil bagian sepanjang hidup-Nya. Ia adalah pratanda “penyunatan yang diberikan Kristus”: “Pembaptisan” (Kol 2:11-12).

KGK 529
Persembahan Yesus dalam kenisah (Bdk. Luk 2:22-29) menunjukkan Dia sebagai Anak sulung, yang dipersembahkan kepada Tuhan (Bdk. Kel 13:12-13).
Dalam Simeon dan Hana terjadilah pertemuan – demikianlah tradisi Bisantin menamakan pesta ini – seluruh pengharapan Israel dengan Penebus-Nya. Yesus dikenal sebagai Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan, sebagai “cahaya bangsa-bangsa” dan “kemuliaan Israel”, tetapi juga sebagai “tanda pertentangan”.
Pedang dukacita, yang diramalkan untuk Maria, menandakan “persembahan” yang lain, yang sempurna dan yang satu-satunya, di salib, yang akan menganugerahkan keselamatan, “yang Allah persiapkan untuk segala bangsa”.

Walaupun Putra Allah, Tuhan Yesus di dunia ini taat kepada Hukum Taurat, dan ketaatan Kristus ini untuk menebus umat Allah yang takluk pada hukum Taurat, supaya dapat diangkat dan dijadikan anak Allah (bdk. Gal 4:4-5). Demikian juga kita yang telah dibaptis dan menerima Tuhan Yesus, kita juga diajak mengikuti dan melaksanakan perintah dan hukum Allah. Kita diajak untuk taat kepada Hukum Allah, baik yang dinyatakan melalui Kitab Suci dan ajaran Gereja.

Ketaatan ini bukanlah ketaatan seorang budak, yang takut menerima hukuman, tetapi ketaatan ini haruslah bersumber pada cinta kasih kepada Allah, seperti cinta kasih seorang anak kepada ayahnya. Sebagai perbandingan sederhana, kita perlu memandang hukum Allah, seperti rambu-rambu lalu lintas, yang berfungsi untuk mengatur lalu lintas, agar para pemakainya aman, nyaman dan selamat dalam berlalu lintas. Kalau rambu itu dilanggar, maka akan kena tilang, atau bahkan menimbulkan kecelakaan. Ini hanyalah perbandingan sederhana, lebih dalam lagi kita perlu menyadari bahwa hukum dan perintah Allah itu bertujuan untuk kebaikan dan keselamatan manusia.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11)

Ketika kami mengetahui bahwa di usia kepala empat ini, kami mempunyai anak lagi, ada kegalauan, cemas tapi juga syukur dan senang. Lalu setiap periksa ke dokter kandungan, selalu dikatakan kehamilan istri saya pada usia di atas empat puluh ini, adalah kehamilan yang lebih berisiko, sehingga harus operasi cesar dan sekalian dianjurkan untuk steril. Anak pertama dan kedua lahir normal, lalu yang ketiga ini operasi cesar masih bisa diterima. Tetapi steril?

Kami tahu yang dianjurkan Gereja Katolik hanyalah KB alami, kemudian juga ada kebijakan pastoral tertentu. Tapi untuk yang bersifat permanen, seperti steril dan vasektomi dilarang. Di sini kami bergumul, karena steril ini hal yang umum dilakukan juga di kalangan orang Katolik. Ada kecemasan, kalau seandainya hamil lagi, bagaimana? Sudah semakin tua dan semakin berisiko. Tetapi ada pemikiran lain, saluran indung telur ini kan organ tubuh yang sehat, ciptaan dan pemberian Tuhan, masa harus dipotong? Segala pergumulan ini kami bawa dalam doa,. Kemudian juga sempat bertanya kepada Romo dan juga sesama rekan pengajar, pada prinsipnya jawabnya sama “tidak” untuk steril. Sempat juga mencari di website Katolik. Intinya Gereja melarang steril sebagai penghargaan kepada martabat manusia dan sesuai tujuan pernikahan. Contoh: kalau organ tubuh yang sehat, seperti tangan, kemudian dipotong begitu saja tentunya tidak bisa, demikian juga dengan saluran indung telur sebagai organ tubuh yang sehat, maka tidak boleh dipotong begitu saja.

Sehingga akhirnya kami berdua memutuskan tidak untuk steril, bahkan sampai saat operasi cesar sedang berjalan, dokter masih menawarkan untuk steril, kami tetap jawab “tidak” untuk steril. Puji Tuhan, dengan bantuan rahmat Tuhan, kami berusaha untuk melaksanakan kehendak Tuhan ini yang dinyatakan melalui Gereja.

Doa: Tuhan Yesus, Engkau memberikan teladan untuk menaati hukum Allah melalui peristiwa ketika Engkau dipersembahkan di Bait Allah. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menolong kami menaati Engkau sebagai Tuhan dan Penyelamat kami secara pribadi dan mentaati hukum-hukum-Mu, karena kami percaya hukum-hukum-Mu menghidupkan dan Engkau berikan demi kebaikan dan keselamatan kami. Terima kasih Tuhan. Amin. (ET).