Engkau Adalah Mesias

Renungan Kamis 21 Februari 2019

Bacaan: Kej. 9:1-13Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23Mrk. 8:27-33

Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” (Mrk. 8:29)

Kita semua merasa bangga dan bahagia apabila keberadaan kita disadari dan dihargai oleh orang-orang yang kita kasihi. Saya merasa bahagia dan dihargai ketika suami memperkenalkan saya sebagai istrinya, ketika anak saya memanggil dan memperkenalkan saya sebagai ibunya kepada teman-temannya. Dengan memperkenalkan saya sebagai seorang istri dan ibu, suami dan anak menyadari dan mengakui kehadiran dan peran saya sebagai istri dan ibu mereka. Mereka mengalami bahwa mereka dapat mengandalkan saya sebagai istri dan ibu mereka.

Demikian juga halnya dengan Yesus. Ketika murid-murid-Nya mengatakan bahwa orang-orang mengenal Yesus sebagai Yohanes Pembaptis, Elia atau nabi; bagi Yesus yang terpenting adalah siapakah Dia menurut para murid-murid-Nya. Mengapa? Karena para murid telah hidup bersama dengan Yesus beberapa waktu lamanya, mendengarkan dan melihat bagaimana Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, bagaimana Ia mengasihi dan mengadakan berbagai mukjizat. Melalui pengalaman hidup bersama-Nya, Yesus ingin para murid mengenali Dia, bukan lagi apa yang dikatakan orang lain.

Dengan membimbing para murid untuk mengenali dan mengimani Dia sebagai Mesias, Anak Allah, Yesus mulai memberitahukan bahwa Anak Manusia akan menderita dan ditolak banyak orang dalam karya penyelamatan-Nya, bahkan para murid yang mengikuti-Nya juga harus menyangkal diri dan memikul salib.

Untuk kita yang saat ini telah diselamatkan dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus juga menghendaki agar kita tidak tawar hati dan harus menahan dengan sabar jika kita harus menderita dan mengalami kesukaran karena melakukan kehendak Allah. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus juga mengingatkan agar kita berdiri teguh, jangan goyah dan giat selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita  tidak sia-sia (1 Kor. 5:58).

Doa: Tuhan Yesus, iman kami kepada-Mu ditunjukkan dengan kesabaran dan kesetiaan untuk melakukan kehendak Allah meskipun harus mengalami penderitaan dan kesukaran.  Bimbing kami untuk senantiasa mengenal Engkau sebagai Anak Allah yang hidup melalui kehadiran-Mu dalam setiap perisitiwa hidup kami sehingga kami selalu memiliki kekuatan untuk tetap setia dalam pekerjaan Tuhan. Amin. (RMWT)