Yesus Teladan Kerendahan Hati

Renungan 24 Januari 2019

Bacaan: Ibr. 7:25-8:6Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17Mrk. 3:7-12

Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. (Mrk. 3:11-12)

Siapakah Yesus? Bagaimana bila kita mengalami peristiwa seperti halnya Yesus?

Yesus sangat terkenal, banyak orang datang kepada-Nya, sebab Ia menyembuhkan banyak orang. Sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan, hendak menjamah-Nya. Roh jahat pun jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkau Anak Allah”, tetapi Yesus dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Pada zaman ini, banyak orang berlomba-lomba untuk terkenal. Setiap ada kesempatan, orang akan menggunakan semua cara untuk semakin dikenal, disanjung, dan dihormati semua orang. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan selebritis, terjadi juga di kalangan tokoh-tokoh di pemerintah , di masyarakat bahkan di dalam gereja. Kebanyakan dari mereka, sadar ataupun tidak, berprinsip semakin terkenal maka semuanya menjadi beres dan semakin disanjung/dikagumi.

Bila kita mengikuti bacaan Injil hari ini, tampak bahwa Yesus pun semakin dikenal banyak orang. Dari berbagai tempat, banyak orang datang untuk bertemu dengan Yesus. Mereka ingin disembuhkan oleh Yesus dan berharap agar Yesus mengusir roh-roh jahat dari mereka. Dan nyatanya roh-roh jahat itu jatuh tersungkur dan mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah. Dalam hal ini, kita diundang untuk bermenung sejenak tentang siapakah Yesus. Titik utama kita bukanlah pada keterkenalan Yesus, melainkan kepada apa yang telah dilakukan oleh Yesus bagi banyak orang dan kerendahan hati-Nya. Yesus banyak membantu orang dan sekaligus tidak ingin  dipuji orang. Karena itu, Yesus sangat melarang roh jahat memberitahu siapakah sesungguhnya diri-Nya.

Saya menjadi Asisten Imam sejak tahun 2009, tanpa terasa sudah tiga periode (9 tahun). Selama menjadi Asisten Imam semua orang bisa melihat saya di altar dan saya menjadi terkenal di Gereja. Tetapi di tahun 2018 Romo Paroki mengeluarkan peraturan baru bahwa Asisten Iman hanya boleh menjabat dua periode dan setelahnya harus digantikan. Saat mendengarkan peraturan baru tersebut, hati saya terasa kecewa, marah dan tidak rela, tetapi saya tidak dapat menolak dan harus taat. Di hari berikutnya saya menjadi umat biasa duduk di samping istri dan keluarga. Saya tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu. Saya merasa kehilangan “sesuatu” yang bukan milik saya.

Dalam permenungan saya , apakah ini bukan kesombongan rohani? Seperti keledai yang ditunggangi Yesus memasuki Yerusalem, semua orang mengelu-elukan Yesus, tetapi si keledai merasa dirinya yang disanjung dan menjadi sombong.

Tujuan melayani harus murni dan hanya menjalankan kehendak Bapa saja, tidak boleh mencari keuntungan pribadi, melekat dan menjadi sombong; tetapi harus dengan segala kerendahan hati dalam sikap dan perbuatan. Seperti Yesus teladan  kerendahan hati yang sempurna, ingin agar Bapa semakin dimuliakan. Janganlah kita mencuri kemuliaan Bapa untuk diri kita sendiri.

Doa: Ya Bapa mampukan saya meniru teladan Yesus, yakni bersedia melayani/menolong sesama tanpa mengharapkan pujian dengan maksud supaya semakin terkenal. Semoga saya tulus membantu/melayani sesama dengan  rendah hati agar Bapa semakin dimuliakan. Amin. (SWK)