Lebih Sungguh Mengikuti Yesus

Renungan Selasa 22 Januari 2019

Bacaan: Ibr. 6:10-20Mzm. 111:1-2,4-5,9,10cMrk. 2:23-28.

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya. (Ibr. 6:11)

Pagi ini saya mulai berenang kembali setelah rehat selama beberapa bulan karena cedera tangan. Biasanya di pagi hari di kolam renang saya melihat beberapa orang tua dan muda yang sedang terapi karena mengalami kesehatan yang memburuk karena stroke, syaraf terjepit, lutut yang melemah, dll. Ada yang hanya berendam di air panas karena tidak mampu melakukan apa-apa, ada yang mengenakan peralatan-peralatan untuk membantu gerakan mereka di dalam air.

Sakit jasmani memang mudah dikenali, tidak demikian dengan sakit rohani. Sakit rohani ditandai dengan berbagai sikap seperti:

  • Keserakahan yang ada dalam hati, yang satu dominan terhadap yang lain, ingin menguasai yang lain.
  • Kakak beradik yang rebutan harta warisan.
  • Sikap acuh tak acuh hanya mementingkan diri sendiri, keluarga maupun golongan.
  • Sikap ambisi ingin mengalahkan yang lain dengan menghalalkan segala cara.
  • Kemalasan rohani sebab terlalu sibuk mengejar hal-hal yang duniawi.
  • Tuhan hanya ada di gereja yang berarti di luar gereja sudah melupakan Tuhan, tidak takut lagi terhadap Tuhan.
  • Dikendalikan oleh kekayaan sehingga sok main kuasa.

Sakit rohani yang dibiarkan terus menerus dapat menyeret saya kepada maut. Sumber sakit rohani adalah relasi yang retak dengan Tuhan dan sesama. Injil Tuhan hari ini menyadarkan saya untuk pertama-tama datang kepada sumber mata air penyembuh jiwa yaitu Yesus Kristus lewat salah satu perintah Allah “Kuduskanlah Hari Tuhan”, hari terakhir yang  disebut Sabat di mana Tuhan berhenti dan beristirahat dari segala sesuatu yang diciptakannya.

Tidak cukup kalau hanya setiap hari Minggu saya pergi ke gereja untuk sekedar menjalankan rutinitas mingguan orang Katolik. Namun Tuhan ingin saya mencari dia lebih sungguh lagi, menyiapkan diri benar-benar untuk bertemu dengan Tuhan Yesus lewat Sakramen Ekaristi. Bagaimana caranya?

Merindukan Hari Kudus Tuhan beberapa hari sebelumnya yaitu sejak Rabu atau Kamis saya mulai melakukan lectio divina dan mencatat dalam buku jurnal saya apa pesan Tuhan pada hari itu, dan saya ulangi kembali keesokan harinya setiap hari sampai tiba hari Minggu yang saya nanti-nantikan. Dan sungguh luar biasa pesan Tuhan lewat pembacaan Sabda Tuhan sampai dengan khotbah Romo dan sepanjang misa saya bisa merasakan betapa manis, indah dan mulia-Nya Tuhan, betapa pemulihan, penyembuhan serta pembaruan yang sedang berlangsung terjadi saat itu dan setelah itu.

Salah satu dampaknya adalah saya terpanggil untuk lebih memberikan diri kepada lingkungan dan wilayah paroki saya. Sakit rohani seperti sikap acuh tak acuh, kemalasan, iri hati, keserakahan, materialisme, khawatir akan masa depan, konflik dengan sesama, dll. semakin disembuhkan. Saya makin hidup berdamai dengan diri sendiri, Tuhan dan sesama.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk kehadiran-Mu yang senantiasa menyembuhkan kami lewat hari kudus-Mu, lewat Sakramen Ekaristi. Kami mau lebih sungguh lagi mempersiapkan perjumpaan dengan-Mu, lebih sungguh lagi mengikuti dan mencari Engkau, sebab Engkau adalah sumber kekuatan yang menyegarkan jiwa kami, sehingga kami mampu menjalani setiap langkah selalu berkenan di hadapan-Mu sampai saatnya tiba kami boleh berjumpa dengan-Mu muka dengan muka, itulah kerinduan kami. Amin. (PPT)