Disamakan Dengan Saudara-Nya 

Renungan Rabu 16 Januari 2019

Bacaan: Ibr. 2:14-18; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Mrk. 1:29-39

Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya. (Ibr. 2:17a) 

Beberapa tahun yang lalu, saya memberanikan diri mengambil keputusan untuk memasuki dunia pelayanan. Sejujurnya saya belum tahu secara jelas apakah pelayanan itu, yang saya mau hanya ingin dapat membantu orang lain. 

Saya memulainya dengan bergabung di salah satu komunitas. Canggung, rendah diri, bingung dan banyak pertanyaan di dalam hati. Maklum mereka yang lain teman sekomunitas memang sudah lama berkecimpung dalam dunia pelayanan, tampak sekali sudah terbiasa dan begitu trampil melakukan segala sesuatu dan bergaul satu sama lain. Di dalam hati saya membuat komitmen, suatu saat nanti saya juga harus bisa melayani seperti mereka. 

Beberapa waktu berjalan, saya sudah mulai terbiasa dengan situasi, sesama teman ldan sudah mulai timbul keinginan untuk ikut melayani seperti yang lain. Tetapi saya tidak pernah ditunjuk untuk ikut bertugas, sedangkan saya tidak berani menawarkan diri untuk melayani. Ada perasaan malu, takut ditolak, menjadi alasan untuk tidak menawarkan diri. Menunggu saja dengan harapan suatu saat saya akan mendapat giliran. 

Beberapa tahun kemudian, saya mulai mendapat kepercayaan, mulai dari menjadi ketua kelompok, panitia suatu acara komunitas dan tugas-tugas yang lain. Singkat cerita apa yang saya harapkan menjadi kenyataan. Di saat bersamaan, rasa percaya diri yang mulai timbul di dalam hati, berubah menjadi perasaan memiliki kemampuan lebih daripada orang lain, merasa serba bisa, sehingga perilaku pun berubah. Suka berkelompok dengan orang-orang tertentu, ingin selalu menonjol, ingin selalu tampil dan berada di dekat orang-orang penting. Saya menjadi orang yang memandang sebelah mata kepada orang lain. Orientasi lpun berubah, dari keinginan melayani menjadi keinginan menjadi orang yang terpandang. Saya menjadi sombong. 

Sampai suatu ketika Tuhan menyadarkan saya melalui firman-Nya: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Fil 2:6-7). 

Ayat ini membuat saya malu kepada Tuhan. Menyesal telah menjadi sombong, sedangkan kemampuan yang saya miliki semua karena anugerah-Nya semata. Yesus saja berkenan merendahkan diri rela menjadi manusia. Rasa bersalah dan tidak layak mengganggu saya beberapa waktu. Tetapi Tuhan tetap baik, Dia angkat kembali saya dari rasa bersalah untuk bangkit dan semakin bersemangat untuk melayani lagi dengan sikap hati yang baru. 

Yesus saja berkenan merendahkan diri menjadi setara dengan manusia demi keselamatan manusia, siapa aku ini? 

Tuhan, ampunilah aku yang sudah demikian sombong, angkuh, arogan terhadap sesama. Padahal semua yang ada padaku saat ini berasal dari-Mu, seharusnya semuanya aku persembahkan untuk kemuliaan-Mu. Hari ini aku Engkau ingatkan kembali melalui firman-Mu, untuk tetap rendah hati, apa adanya, sebab Engkau sudah terlebih dahulu memberi teladan kepadaku. Tuhan Yesus ampunilah aku. (ANS)