Seberapa Penting Kehendak Allah Bagiku?

Renungan Kamis 6 Desember 2018

Bacaan: Yes. 26:1-6Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27aMat. 7:21,24-27

SEBERAPA PENTING KEHENDAK ALLAH BAGIKU?

Dalam teks Injil yang kita baca dan kita renungkan hari ini, Tuhan Yesus menekankan betapa pentingnya melaksanakan kehendak Allah. Bagi Tuhan Yesus, kehendak Allah Bapa adalah pedoman dan tujuan hidup-Nya di dunia ini,

“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 4:34).

“Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh. 6:38).

Dan Dia mengajar kita para murid-Nya untuk senantiasa melakukan kehendak Bapa dan memohon supaya kehendak Bapa yang terjadi, sebagaimana yang diajarkan-Nya dalam doa Bapa Kami: “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga” (bdk. Mat 6:10).

Kehendak Allah dalam pangkal kebahagiaan dan keselamatan kita, seperti yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil hari ini, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).

Dan kita percaya apapun yang dikehendaki Allah, itulah yang terbaik untuk kita, karena Dia adalah Allah yang mengasihi kita, anak-anak-Nya,

“Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan penuh harapan” (Yer. 29:11).

BAGAIMANA DAPAT MENGENALI DAN MENCARI KEHENDAK ALLAH?

Untuk mencari dan mengenali kehendak Allah, apa yang sesuai dengan kehendak Allah, apa yang berkenan kepada Allah? Kita dapat mencari dan mengenali kehendak Allah secara umum melalui Kitab Suci, Ajaran Gereja Katolik dan status hidup kita. Kemudian juga secara khusus, kita dapat mencari dan mengenali kehendak Allah, melalui proses untuk mencari dan mengenali kehendak Allah di dalam doa, yang dikenal dengan istilah “Discernment”, proses pembedaan roh atau penegasan rohani.

Kitab Suci adalah sumber pertama dan utama untuk mengenali kehendak Allah, melalui Kitab Suci kita mengetahui rencana, kehendak dan pikiran Allah. Dengan senantiasa meresapkan Sabda Allah, khususnya melalui Lectio Divina, kita akan dibimbing oleh Roh Kudus untuk semakin terbuka dan peka terhadap kehendak Allah.

Melalui Ajaran Gereja Katolik kita dapat mengenali apa kehendak Allah bagi kita, karena Tuhan Yesus sendiri yang telah mendirikan Gereja-Nya. Gereja yang dijiwai oleh Roh Kudus, yang diberi kuasa oleh Allah untuk mengajar dan membimbing murid-murid Kristus, untuk menafsirkan Kitab Suci secara otentik, secara tepat dan benar di dalam terang dan bimbingan Roh Kudus sendiri. Suatu rahmat besar pada zaman ini, kita dapat mengenali kehendak Allah melalui ajaran Gereja yang terangkum dalam Katekismus Gereja Katollik.

Melalui status hidup dan kewajiban yang mengalir dari panggilan hidup kita, kita juga dapat mengenali kehendak Allah. Kehendak Allah untuk para imam, biarawan dan biarawati, tentunya berbeda dengan kehendak Allah untuk kaum awam. Misalnya dalam kaitan dengan hidup berkomunitas dan pelayanan, tentunya ada perbedaan. Seorang imam, biarawan atau biarawati dipanggil untuk membaktikan seluruh hidup dan tenaganya untuk melayani Allah dan Gereja, baik dalam pelayanan aktif atau kontemplatif. Sedangkan seorang awam yang merasa dipanggil untuk pelayanan, tentunya ada prioritas-prioritas lain selain pelayanan.

Prioritas seorang awam yang dipanggil melayani:

  1. TUHAN, prioritas utama setiap murid Kristus untuk menjalin hubungan pribadi dengan Allah melalui doa, pembacaan Kitab Suci dan penghayatan Sakramen-Sakramen.
  2. KELUARGA, seorang awam yang menikah, mempunyai pasangan hidup dan anak-anak, tentunya juga harus memberikan prioritas bagi sesama yang terdekat dengannya.
  3. PEKERJAAN, seorang awam juga dipanggil untuk bekerja dan mencari nafkah demi kehidupan dan kesejahteraan keluarga, serta demi kemuliaan Allah.
  4. KOMUNITAS dan PELAYANAN, sebagai murid Kristus kita dipanggil untuk berjalan menuju Allah bersama saudara-saudari seiman, melalui hidup berkomunitas. Dan melalui pelayanan, kita dipanggil menghantar saudara-saudari kita kepada Allah.

Tentunya prioritas ini, bisa berbeda-beda porsinya sesuai panggilan dan kehendak Allah bagi orang tersebut, ada yang dipanggil menjadi full timer dalam pelayanan, ada yang part timer, dsb.

Dan pada akhirnya yang terutama adalah supaya kehendak Allah yang sungguh-sungguh terjadi dan menjadi pedoman hidup kita. Dengan mendasarkan diri kepada kehendak Allah, maka seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam Injil hari ini, maka kita seperti mendirikan rumah di atas batu, yang kokoh tetap berdiri sekalipun mengalami hujan dan banjir. Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus dan pertolongan Roh Kudus-Nya selalu tercurah ke dalam hati dan hidup kita, supaya kita semakin mendasarkan seluruh hidup kita, dalam segala aspeknya kepada Allah dan kehendak-Nya. “Jadilah kehendak-Mu, Ya Tuhan, di atas bumi seperti di dalam Surga.” Amin. (EFT).