Percaya Saja dan Berdoa

Renungan Rabu 19 Desember 2018

Bacaan: Hak. 13:2-7,24-25aMzm. 71:3-4a,5-6ab,16-17Luk. 1:5-25

PERCAYA SAJA DAN BERDOA

Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak. Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.” (Hak. 13:2-3)

Awal bulan lalu saya tiba di kota tempat anak saya tinggal. Saya mempunyai banyak waktu saat ini, untuk mengunjungi dan tinggal berlama-lama bersama anak-anak dan cucu karena saya sudah tidak bekerja. Kesempata ini saya bersama anak yang nomor dua.

Suatu malam, beberapa hari setelah saya tiba, anak saya mengalami kesakitan dan perutnya kembung besar. Melalui USG ditemukan banyak gas di dalam perutnya, ada indikasi kebocoran yang belum diketahui di usus atau di lambung. Berdasarkan USG tersebut, dokter menyatakan harus segera dilakukan operasi keesokannya. Saya terperangah mendengar instruksi dari dokter. Namun melihat kondisi anak saya saat itu memang sepertinya tidak ada pilihan lain. Saya berdoa kepada Tuhan memohon pertolongan dan campur tangan-Nya selama operasi dan pemulihannya. Berat rasanya menerima kenyataan ini karena kemarin dia baik-baik saja tiba-tiba esoknya harus operasi, dan ini operasi besar karena bedah perut.

Operasi pertama dilakukan sesuai jadwal dan memakan waktu lebih dari empat jam. Dokter mengangkat appendiks dan membersihkan perut yang banyak kotoran. Saya bersyukur karena setelah operasi selesai, anak saya sadar penuh dan langsung bisa dibawa ke ruangan, tidak perlu di ruang ICU. Puji syukur kepada Tuhan.

Beberapa hari observasi, ternyata kebocoran belum teratasi, karena saluran pembuangan yang seharusnya berisi cairan sisa operasi, ternyata mengeluarkan kotoran. Dokter menginstruksikan operasi kedua segera harus dilakukan untuk mencegah timbulnya masalah lain. Saya merasa tidak memiliki kekuatan lagi mendengar keputusan ini. Membayangkan kondisi anak saya yang baru berapa hari selesai operasi harus operasi lagi, luka sayatan pasti akan lebih panjang dari yang pertama karena harus mencari sampai menemukan kebocorannya. Biaya yang harus dikeluarkan tentu sangat besar. Saya mencari kekuatan dengan melakukan adorasi di gereja di sebelah rumah sakit, saya juga memohon doa melalui BundaMaria. Saya serahkan semua yang ada di dalam hati karena hanya Dialah sumber segalanya. Saya tidak berani membayangkan, memikirkan semuanya, karena semuanya di luar kemampuan saya.

Operasi kedua dilakukan dengan memakan waktu lebih dari empat jam, sampai menjelang tengah malam. Anak saya harus diobservasi di ruang ICU. Bergetar hati saya ketika dia berbisik lirih: “Kok aku malah jadi seperti ini Ma..” Hancur hati saya saat memandang dia yang sayu, banyak selang di mana-mana dan saya berseru kepada Tuhan mohon kekuatan untuk saya dan anak saya agar dapat melewati proses ini dengan sabar, tabah, ikhlas dan tidak mengeluh. Sebagai seorang ibu berat rasanya menerima kenyataan ini, rasanya lebih baik saya saja yang mengalaminya daripada anak saya. Saat itu terlintas dipikiran ketika Bunda Maria mengiring Yesus dalam perjalanan ke Golgota, itu pasti jauh lebih berat dari keadaan saya saat itu. Saat itu pula saya mendapat kekuatan baru.

Saya juga berdoa memohon pertolongan untuk dapat meyelesaikan seluruh biaya yang perkiraannya jauh dari kesanggupan kami. Saya percaya Tuhan izinkan semua ini terjadi, pasti Tuhan menyediakan jalan keluarnya. Bahkan Tuhan sudah mempersiapkan sebelumnya melalui letak rumah sakit yang berada di sebelah gereja, di mana saya dapat memandang salib Yesus yang ada di atas gereja dari depan kamar anakku untuk berbicara dengan-Nya setiap saat. Ruang Adorasi dan Gua Maria menjadi tempat bagi saya untuk menumpahkan air mata dan rasa sesak di dada, manakala saya merasa tidak sanggup. Misa Kudus memberi saya kekuatan dan kepastian bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya dan anak saya, Doa Rosario memberi saya penghiburan bahwa Bunda Maria ada bersama saya dan anak saya.

Allah mendengar doa kami dan doa semua orang yang turut berdoa bersama kami. Semua dikabulkan-Nya. Sampai saat ini semua permohonan kami dipenuhi-Nya. Allah setia dan tak pernah terlambat menolong. Kami sangat bersyukur atas kasih dan kemurahan hati Allah.

Manoah tidak bertanya kepada Tuhan. Dia percaya dan berdoa bagi penglihatan isterinya, maka mujizat Allah terjadi, isterinya yang mandul dan tidak beranak, melahirkan seorang anak laki-laki dan anak itu diberkati Tuhan (Hak. 13:24).

Doa: Tuhan, terima kasih tak terhingga untuk semua pertolongan, kasih dan kemurahan hati yang terus mengalir, menguatkan kami selama proses yang kami jalani. Tak terhingga kasih-Mu kepada kami melalui saudara, teman, sahabat, keluarga kami, bahkan dari mereka yang mungkin tidak kami kenal. Segala puji, hormat dan kemuliaan bagi-Mu, Allah Tri Tunggal Maha Kudus selama-lamanya. Amin. 

Percaya saja dan berdoa. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Semoga Tuhan memberkati. (ANS)