Meneladani Ketaatan Yusuf

Renungan Selasa 18 Desember 2018

Bacaan: Yer. 23:5-8Mzm. 72:2,12-13,18-19Mat. 1:18-24

MENELADANI KETAATAN YUSUF

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Mat. 1:24)

Berawal dari nubuatan nabi Yesaya: ”…..Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes. 7:14b)

Dan 700 tahun kemudian nubuatan ini pun diwujudnyatakan melalui Maria, seorang dara yang mengandung bukan dari seorang lelaki duniawi, tetapi dari Roh Kudus seperti yang dituliskan dalam Matius 1:18-25.

Dalam perikop ini Matius juga menggambarkan bagaimana pergumulan seorang Yusuf dalam menanggapi rencana besar Allah bagi manusia. Saat itu Yusuf telah bertunangan dengan Maria. Setelah Maria menceritakan rahasia kehamilannya kepada Yusuf, tentu saja Yusuf menjadi bingung, karena tidak masuk akal bahwa Maria, tunangannya telah mengandung seorang anak padahal mereka belum menikah, belum hidup sebagai suami istri.

Maka ia bermaksud untuk menceraikan Maria secara diam-diam, dengan demikian nama baik Maria terselamatkan dan Maria pun terhindar dari hukuman yang berlaku dalam bangsa Yahudi saat itu yaitu dilempari batu.

Sebelum ia menjalankan rencananya, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi untuk memberikan pernyataan Allah. Yusuf yang sebelumnya takut dan ragu untuk menerima Maria sebagai istrinya, disapa Allah secara pribadi untuk menegaskan bahwa kehamilan Maria adalah kehendak Allah. Yusuf diajak ikut berpartisipasi dalam suatu rencana besar Allah bagi penyelamatan umat manusia. Diberi kehormatan memberikan nama Yesus bagi bayi yang akan lahir itu dan sekaligus menjadi bapa pengasuh bagi Yesus, Sang Mesias.

Di sini kita melihat bahwa selain Maria, Allah juga mau memakai Yusuf untuk mengambil peranan dalam kelahiran Yesus sang penyelamat umat manusia.

Sebenarnya perintah Tuhan ini bukanlah hal yang mudah bagi Yusuf. Ia bisa saja tidak menaati perintah Tuhan itu. Pertama, peristiwa itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa Maria mengandung dari Roh Kudus. Kedua, memikirkan risiko dan tanggung jawab ke depan yang harus dihadapi kalau ia mengambil Maria sebagai istrinya bersama bayi yang dikandungnya. Tetapi dalam Matius 1:24 dikatakan: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan Malaikat itu kepadanya.”

Yusuf tidak berargumentasi dengan Tuhan; Yusuf tidak mengajukan sejumlah alasan atau dalih apa pun untuk menolak perintah Tuhan. Dia begitu yakin dan percaya akan perkataan Allah sehingga tanpa keraguan sedikit pun Yusuf menaati perintah-Nya dan mengambil Maria sebagai istrinya.

Tuhan ingin kita juga memiliki hidup seperti Yusuf, yang dengan tulus hati dan terbuka mau taat kepada apa yang disabdakan-Nya. Ketulusan hati kita menerima firman Tuhan akan membentuk karakter kita, menjadikan kita bijaksana dan bahkan membuat kita menjadi berkat bagi orang lain. Ketaatan kita kepada firman Tuhan akan memproses hidup kita semakin lama semakin baik, berkualitas dan memuliakan Dia.

Hingga hari ini Allah masih terus melakukan pekerjaan-Nya, dan Dia mau memakai kita, Dia mau kita ikut serta dalam proyek-Nya memperluas kerajaan-Nya di dunia ini.

Menjelang peringatan Natal ini, mari kita merenungkan panggilan Allah bagi diri kita masing-masing:

  • Apakah kita memiliki ketulusan hati dalam menerima Sabda-Nya, mau menaati dan melakukannya dalam hidup kita?
  • Apakah kita bisa menunjukkan kepada-Nya bahwa kita adalah orang yang dapat dipercaya untuk ikut bekerja dalam proyek besar Allah?

Tuhan memberkati kita semua. (MFBD)