Jauh dari Hiruk Pikuk

Renungan Sabtu 1 Desember 2018

Bacaan: Why. 22:1-7Mzm. 95:1-2,3-5,6-7Luk. 21:34-36.

JAUH DARI HIRUK PIKUK

Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (Luk. 21:34)

Selamat pagi sahabat yang terkasih.

Tinggal jauh di pedalaman, bukanlah sesuatu yang menjadi impian saya. Kesibukan dan tuntutan pekerjaan, membuat saya sangat mengandalkan teknologi, terutama sinyal GSM dan internet. Sehingga menjadi satu siksaan tersendiri jika kedua hal tersebut tidak ada atau tidak lancar. Melayani di daerah pedalaman Papua menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Agats adalah kota kabupaten. Kota yang terletak di atas rawa, semua bagian kotanya berupa panggung yang disangga tiang kayu atau beton.

Di Agats sinyal GSM sangat tidak bisa diandalkan. Di sinilah saya belajar untuk “berdiam”. Komunikasi untuk keperluan keluarga dan pekerjaan tidak lancar dan sering macet sama sekali. Rasanya ingin emosi ketika mengalami hal seperti ini. Namun di saat seperti ini, ternyata banyak hal yang luar biasa terjadi, mengandalkan Tuhan bukan hanya 50% atau 75% seperti yang biasa saya lakukan, tapi benar-benar 100%.

Injil hari ini, seolah-olah memperkuat alasan Tuhan untuk “mengirim saya” ke kedalaman tanah Papua.

Lukas 21:34 “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”

Pelayanan di Agats inilah saya betul-betul mengalami yang namanya undur diri dari hiruk pikuk duniawi. Suatu pelayanan yang sangat luar biasa, semua pikiran dan waktu tercurah penuh tanpa ada gangguan.

Melayani umat di Agats adalah satu pengalaman yang tidak terlupakan. Mereka harus menempuh perjalanan yang jauh dan sangat berbahaya dari berbagai kampung yang saling berjauhan untuk bisa hadir bersama. Mereka harus melewati laut Arafura dengan waktu tempuh tiga hingga enam jam, tidak jarang mereka harus berjuang melawan maut, ombak besar dan kehabisan bahan bakar. Bahkan perahu mereka pernah tenggelam dihajar ombak. Namun mereka adalah orang-orang yang haus mengalami pengajaran dan pemberitaan akan Tuhan Yesus.  

Mari sahabat, ada kalanya Tuhan menempatkan kita di satu kondisi yang seolah-olah demikian memaksa kita untuk tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi sadarilah, bahwa di saat itulah, sebenarnya kasih Tuhan yang sempurna dinyatakan atas diri kita yaitu dengan jalan melayani Tuhan Yesus secara total. Tuhan Yesus sangat membutuhkanmu agar engkau mampu membawa sebanyak mungkin orang mengenal Tuhan Yesus.

Selamat beraktivitas.

Tuhan Yesus memberkati. (JSW)