Berbahagialah Ia Yang Telah Percaya

Renungan Minggu 23 Desember 2018, Minggu Adven IV

Bacaan: Mi. 5:1-4aMzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19Ibr. 10:5-10Luk. 1:39-45

BERBAHAGIALAH IA YANG TELAH PERCAYA

Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. (Luk 1:45)

Itulah ungkapan Elisabet yang penuh dengan Roh Kudus, saat mendengar salam Maria yang mengandung dari Roh Kudus. Anak yang dalam rahimnya melonjak kegirangan karena mengenali siapa yang ada dalam kandungan Maria, sehingga Elisabet menyapa Maria sebagai Ibu Tuhan.

Kedatangan Tuhan Yesus sebenarnya telah dinubuatkan oleh Mikha. Allah akan membangkitkan seseorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, yang sudah ada sejak dahulu kala. Sebenarnya merupakan jawaban Allah terhadap seruan umat-Nya Israel, agar dapat dipulihkan dan diselamatkan. Allahlah yang bertindak untuk menolong umat-Nya, melalui orang yang datang untuk melakukan kehendak Allah yang saya kenal sebagai Kristus Yesus seperti tertulis dalam Surat Ibrani.

Yesus berkata: “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki! Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau juga tidak berkenan, meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Lihatlah, Aku datang melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku, sebagaimana tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku.”

Yesus telah menghapuskan yang pertama untuk menegakkan yang kedua, sesuai kehendak Allah. Oleh karena itu saya bersyukur, sebagai umat Israel baru telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya di dalam dan oleh Yesus Kristus.

Yesus dan Bunda Maria memberi teladan hidup seperti yang diungkapkan oleh Elisabet, “Berbahagialah ia yang telah percaya, sebab Firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.”

Sering dalam kehidupan sehari-hari, saat saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya bertanya kepada Tuhan, apa yang harus saya lakukan. Roh Kudus selalu membimbing saya, dan saat saya melakukan bimbingan-Nya. Benar terjadi seperti yang telah difirmankan-Nya.

Suatu saat saya mengunjungi, mendoakan seseorang dan Roh Kudus mengingatkan saya untuk menawarkan Sakramen Orang Sakit padanya. Ia menyetujui, dan akhirnya saya panggilkan seorang Romo dan teman saya menerima Sakramen tersebut. Walau saya mengalami teguran dan marah dari beberapa orang, karena saya menawarkan Sakramen tersebut. Dan benar beberapa hari kemudian, saya mendengar berita bahwa  teman tersebut meninggal.

Tuhan selalu menyertai saat suka maupun duka. Saat suami saya meninggal, Allah yang bertahta dalam lubuk hati saya yang paling dalam, memberi kekuatan melalui lagu yang terus ada dalam hati saya, walau saat itu saya belum tahu itu lagu apa. Mungkin pernah saya dengar. Sampai saya menelpon teman dan bertanya itu lagu apa. Liriknya bagaimana dan saya catat. Ternyata lagu “Bersama-Mu Bapa” dan lagu itu memberi kekuatan dan sukacita karena Tuhan.

Doa: Tuhan tambahlah imanku dan mampukanlah aku untuk melakukan kehendak-Mu, agar sukacita-Mu menjadi penuh di dalamku. Amin. (JRW)