Siapa Yang Layak Diundang?

Renungan Senin 5 November 2018

Bacaan: Flp. 2:1-4Mzm. 131:1,2,3Luk. 14:12-14

SIAPA YANG LAYAK DIUNDANG?

Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. (Luk. 14:13)

Dalam perikop yang pendek ini Yesus membahas “siapa yang harus diundang” ketika kita mengadakan perjamuan. Yesus sekaligus menampilkan prinsip manusia dan prinsip Allah sehingga bisa jelas bagi kita apa yang dikehendaki-Nya.

Pada umumnya, ketika kita mengadakan pesta, maka kita mengundang sahabat-sahabat kita, saudara-saudara kita, keluarga kita, tetangga-tetangga kita, tepat seperti yang dikatakan Yesus. Dengan berbagai alasan: mungkin karena mereka pernah mengundang kita, mereka punya hubungan baik dengan kita, mereka orang-orang yang menyenangkan kita dan kita mau membalaskan semuanya ini kepada mereka. Ini prinsip manusiawi, prinsip dunia. Ternyata Yesus menghendaki kita, murid-murid-Nya bukan menjalankan prinsip manusia dan dunia tetapi prinsip Allah dan melakukan apa yang Dia ajarkan dan yang juga sudah Dia lakukan.

Untuk menerapkan apa yang Tuhan katakan dalam perikop ini pasti tidaklah mudah. Tidak terbayang bagaimana kalau kita membuat pesta dan yang datang adalah semua orang- orang seperti yang Yesus katakan. Di sini kita harus menanggapi sabda Tuhan bukan dari apa yang tersurat tetapi dari apa yang tersirat yaitu mencari makna yang terkandung dari perkataan Yesus.

Melalui sabda-Nya ini Yesus mau menyampaikan bahwa kita harus saling mengasihi, harus mau berbagi seperti yang dikatakan-Nya: ”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh. 15:12).

Dan wujud nyata kasih itu harus dinyatakan dalam perbuatan nyata dan tidak sekedar slogan atau wacana belaka. Bukan hanya bagi orang-orang dengan kriteria tertentu tetapi merata bagi semua orang tanpa membeda-bedakan, tanpa pilih kasih, tanpa motivasi apapun apalagi demi mencari keuntungan bagi diri sendiri, terutama kepada mereka yang menderita dan membutuhkan saluran kasih kita.

Tiada pilihan lain. Sikap kita harus diubah total. Murid-murid Yesus harus meninggalkan prinsip manusiawinya, melawan kodrat kita yang lemah, kodrat untuk mencari kemudahan, kesenangan, kenyamanan, mengharapkan balasan dan demi keuntungan diri sendiri. Kita memang manusia dan masih hidup di dunia tetapi kita adalah milik Kristus jadi kita tidak lagi berjuang secara manusiawi ataupun duniawi melainkan harus mengikuti prinsip-Nya, ajaran-Nya dan melakukan-Nya.

Kalau kita renungkan: Siapa yang dimaksud dengan orang buta, orang lumpuh, orang miskin dan cacat yang Yesus maksudkan? Bukan “mereka”, bukan “dia”, tetapi itulah kita.

Mari kita semua menyadari bahwa diri kita ini orang-orang miskin, buta dan lumpuh yang diundang Allah ikut dalam pesta perjamuannya. Layakkah kita? Pantaskah kita “diundang pesta”? Sejujurnya tiada seorang pun yang layak dan pantas. Tetapi semua ini sudah dilayakkan oleh Yesus untuk kita melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Mengapa? Karena begitu besar kasih Allah kepada kita, sehingga tanpa memperhitungkan diri kita yang miskin, cacat, buta, lumpuh, semuanya diundang dalam perayaan penyelamatan, perayaan Ekaristi maupun dalam perjamuan abadi di surga nanti.

Karena itu tidaklah berlebihan kalau Yesus menghendaki kita melakukan seperti apa yang sudah Dia lakukan juga bagi kita, dan Yesus mengatakan:  Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar. (Luk. 14:14).

Kebahagiaan dan berkat sepantasnya dibagikan kepada sesama yang membutuhkan dengan tulus.

Tuhan Yesus memberkati. (MBD)