Setia Pada Perkara Kecil

Renungan Sabtu 10 November 2018, Peringatan Wajib St. Leo Agung

Bacaan: Flp. 4:10-19Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9Luk. 16:9-15

SETIA PADA PERKARA KECIL

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. (Luk. 16:10)

Kemajuan teknologi sejauh kita menggunakan secara benar akan sangat berguna. Kesaksian atau cerita kehidupan dalam video di WhatsApp bagi saya pribadi dapat menegur bahkan kadang menumbuhkan iman. Seperti beberapa waktu berselang, saya mendapatkan video dari seseorang, tentang kesetiaan seseorang dalam mengikuti nasihat ayahya tentang tanggung jawab.

Suatu hari seorang pemulung menaiki sepedanya tanpa menyadari bahwa di depannya ada penutup selokan. Akibatnya pria yang baru saja menaiki sepedanya itu tidak dapat mengendalikan sepedanya dan menabrak sebuah mobil yang sedang parkir di tepi jalan. Betapa kagetnya dia karena dia sudah membuat mobil mewah tersebut tidak mulus lagi. Saat dia merenung, ada seorang gadis lewat dan bertanya, apakah dia yang menabrak mobil mewah tersebut. Dengan jujur dia membenarkan dugaan gadis tersebut. Dan gadis itu mengusulkan padanya untuk segera pergi melarikan diri saja, karena biaya untuk membetulkan pasti mahal. Tetapi pria itu menjawab dengan sopan: “Tidak, sejak kecil ayah saya mendidik saya untuk selalu jujur dan berani mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya. Saya akan menantikan sampai pemilik mobil datang.” Lalu pergilah gadis itu.

Dengan setia anak muda itu duduk di tepi jalan sambil menunggu sampai si pemilik mobil datang. Si pemilik mobil yang tubuhnya pendek, didampingi seorang yang tinggi besar dan bermuka garang. Dengan nada marah dan garang dia menegur anak muda tersebut dan bertanya, apakah anak muda ini yang menabrak mobil bosnya. Anak muda ini mengakuinya. Si pemilik mobil bertanya, kenapa dia tidak segera pergi setelah menabrak dan melihat keadaan mobil yang menjadi cacat karena kesalahannya, dan yang pasti membutuhkan banyak biaya untuk memperbaikinya. Anak muda ini menjawab bahwa sejak kecil ayahnya mendidik untuk berani bertanggung jawab apabila melakukan kesalahan. Dia pasti membayar seluruh biaya. Bila uangnya kurang, dia akan membayar sampai lunas. Ternyata uang yang ada padanya masih kurang.

Singkat cerita, pemuda ini mengajak pemilik mobil itu ke rumahnya yang terletak tidak berapa jauh dari tempat kejadian tersebut. Sampai di rumah pemuda yang sederhana itu, ayahnya yang lumpuh berjemur, menyapa saat anaknya masuk rumah dan keluar lagi serta membawa sejumlah uang. Putranya secara singkat menceritakan pengalamannya pada papanya dan mengaku bahwa ia melakukan apa yang ayahnya ajarkan. Ayah pemuda itu membenarkan dan memuji apa yang dilakukan anaknya sambil mohon maaf untuk keteledoran sang putra. Jumlah uang yang diminta si pemilik sudah diberikan. Si pemilik ternyata pemilik suatu perusahaan, memerintahkan pegawainya untuk memberikan sejumlah uang yang lebih besar daripada yang dibayar si pemuda, dan meminta pemulung itu mulai besok bekerja di perusahaannya karena dia butuh orang yang setia dan penuh tanggung jawab untuk perusahaannya.

Hari ini gereja memperingati Santo Leo Agung, paus dan pujangga gereja, terlahir dari keluarga bangsawan kaya Italia. Paus Leo merupakan salah satu paus yang berani dan setia pada ajaran gereja. Karena ketegasan dan keberaniannya, tanpa takut dan gentar membela ajaran iman dan pembela kota Roma dari serangan bangsa barbar. Beliau dianggap sebagai singa yang selalu siap menerjang setiap mangsa yang ada di hadapannya, melawan para bida`ah yang ajarannya bertentangan dengan ajaran resmi Gereja. Dengan kecakapannya bernegosiasi dan persuasi, berhasil menyelamatkan kota Roma. Beliau adalah seorang gembala yang baik dan rendah hati serta teladan bagi para gembala.

Pertanyaan bagi saya pribadi, apakah saya juga tekun dan setia dalam iman kepada Yesus? Saat saya mengalami masalah, beranikah saya mengambil sikap seperti Paus Leo yang begitu setia dalam imannya. Dan dalam kehidupan sehari-hari, apakah saya seperti pemuda di atas, yang sabar menanti dengan setia kedatangan pemilik, hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang tanpa sengaja membuat mobil mewah itu tidak mulus lagi?

Doa: Bapa pengasih dan penyayang. Ampunilah saya kalau saya sering kali kurang setia pada perkara kecil. Betapa seringnya saya menganggap remeh perbuatan maupun perkataan yang menurut saya benar, tetapi sebenarnya telah melukai atau merugikan orang lain. Misalnya saat menceritakan keburukan atau kelemahan orang lain, bahkan menghakiminya tanpa mau tahu alasan yang melatar belakangi perilakunya. Bapa, berilah saya hati-Mu yang penuh kasih agar dapat memancarkan kasih setia-Mu pada sesamaku agar kelak mampu mempertanggungjawabkan perbuatanku di hadapan-Mu. Amin. (JRW)