Mengasihi Pribadi Yang Mengasihi

Renungan Minggu 4 November 2018, Hari Minggu Biasa XXXI

Bacaan: Ul. 6:2-6Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51abIbr. 7:23-28Mrk. 12:28b-34

MENGASIHI PRIBADI YANG MENGASIHI

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (Mrk. 12:30)

Ketika hendak mempersiapkan renungan hari ini, sebagaimana biasa saya selalu copy paste bacaan-bacaan Kitab Suci sesuai kalender liturgi. Saat mulai membaca Injil, isinya tentang hal kekhawatiran dan pemeliharaan Tuhan dari Lukas 12:28b-34. Ketika saya teliti, ternyata terjadi salah copy. Maka saya ulangi lagi dengan bacaan Injil hari ini Markus 12:28b-34. Namun untuk kedua kalinya yang ter-copy kembali Lukas 12 itu (karena memang kurang tepat waktu menekan tombol copy).

Saya memutuskan untuk memperhatikan dan merenungkan isi Lukas 12 itu. Karena kejadian ini pasti bermakna bagi saya. Pada saat itu saya merasakan ada suatu “kuasa” Sabda Tuhan yang berdampak bagi saya. Pada waktu itu ada suatu topik yang menimbulkan perasaan khawatir tentang apa yang akan terjadi di depan saya. Saya yakin bahwa Tuhan sedang meneguhkan melalui Injil Lukas 12 tersebut. Seperti seorang ayah yang sedang memeluk dan menenangkan kekalutan anaknya, demikianlah saya mengalami pernyataan kasih Allah Bapa terhadap saya. Dia ingatkan kembali akan janji-Nya sambil memberikan rahmat agar saya percaya kepada-Nya.

Apakah kaitannya dengan tema renungan hari ini tentang kasih kepada Allah dan kepada sesama?

Sebagai manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahan, kurang mudahlah untuk melaksanakan hukum yang utama ini.

Tetapi ada satu hal yang tak dapat dihapuskan oleh apapun: “Saya pasti melakukannya dan dapat melakukannya”, bukan karena saya harus melakukannya sebab takut melanggar hukum, melainkan karena itu yang terutama dan paling berharga bagi saya. Apakah ada hal lain yang saya perlukan dalam hidup ini selain mengasihi dan mengutamakan Tuhan?

– Teringat kembali akan kebenaran dan pengenalan akan Allah,
– teringat kembali akan perbuatan-perbuatan besar yang terjadi dalam hidup ini,
– teringat kembali akan janji-jani yang selalu ditepati pada waktunya,
– teringat kembali akan kehadiran-Nya di tengah badai menakutkan maupun dalam aktivitas sederhana sehari-hari,
– teringat kembali bahwa Tuhan-lah yang membuat saya berharga dan dikasihi-Nya,

masih layakkah saya berpikir: “Bagaimana mungkin mengasihi-Nya?”

Melalui peristiwa salah “copy paste” Injil, saya mengalami lagi perjumpaan dengan Tuhan: “Aku Pribadi yang mengasihimu, Aku menghendaki kamu bahagia – Kasihililah Aku dan sesamamu – maka kamu akan bahagia.”

Saya bahagia karena saya mengasihi Tuhan.

Karena saya mengasihi sesama dan merindukan kebahagiaan mereka, maka saya mau mengajarkan kepada sesama dan keturunan yang ada, agar selalu mengasihi Tuhan.

Doa: Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu. Berilah kami kemampuan untuk mengasihi sesuai kehendak-Mu, agar terwujudlah kerajaan-Mu di atas muka bumi ini. Amin. (JNR)