Keputusan

Renungan Rabu 7 November 2018

Bacaan: Flp. 2:12-18Mzm. 27:1,4,13-14Luk. 14:25-33

KEPUTUSAN

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. (Luk. 14:26-27)

Dalam mengambil suatu keputusan penting yang bijak bagi kehidupan kita, misalnya keputusan menikah, memilih jurusan sekolah, menerima pekerjaan dan lainnya tentunya berdasarkan apa yang kita sukai, percaya dan yakini, karena nantinya akan memengaruhi kehidupan kita selanjutnya. Setidaknya sebelum kita memutuskan kita telah memiliki pengetahuan dan pemahaman serta telah melakukan perhitungan akan kesanggupan ataupun risiko yang akan terjadi atas keputusan tersebut.

Yesus mengingatkan bagi setiap orang ingin mengikuti-Nya, bahwa kita mempunyai kebebasan menentukan. Sebelum memutuskan perlu memikirkan tujuannya sedalam-dalamnya apa yang dicari, diinginkan atau tujuan yang dicapai dan tentunya telah mempertimbangkan sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan ataupun risiko yang perlu diperhitungkan untuk mengikuti Yesus.

Begitu banyak orang mau mengikuti Yesus pada zaman itu, dan juga begitu banyak pengikut Yesus zaman ini , Manusia dalam jumlah terbanyak di dunia yang telah memutuskan dirinya sebagi Kristen. Perlu kita pertanyakan apa motivasi kita pengikut Kristus dan apa yang menjadi harapan sebagai orang-orang zaman Yesus dan umat Kristen di dunia saat ini. Apa sebenarnya motivasi dan tujuan para pengikut Yesus Kristus yang banyak ini, apakah karena  ingin mendapatkan kesembuhan, memiliki status, memiliki kepercayaan, terpaksa karena perkawinan/orang tua, mendapat keselamatan, masuk surga, dan lain lain. Sedangkan Yesus dengan jelas mengingatkan orang yang mengikuti-Nya: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. (Luk. 14:26-27)

Pertanyaan ini juga diberikan kepada orang-orang yang mengikuti Yesus pada zaman ini, dan tentunya juga kepada kita yang mengaku sebagai pelayan-pelayan Yesus sekaligus menjadi anak-anak Allah.

Kita bisa dengan tulus mengikuti Yesus karena kita mau percaya. Karena percaya maka kita terus berpengharapan akan kasih. Kita percaya kepada Allah Pencipta kita, Raja Kehidupan kita; bahkan telah memberikan Putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus menebus dosa-dosa kita dengan janji Kerajaan Surga bagi kita yang percaya. Serta telah memberikan Roh Kudus yang menuntun kita. Ini merupakan dasar iman yang melandasi seluruh jalan kehidupan kita bersama Roh Kudus dalam pilihan utama kita bagi kehidupan berkeluarga; sekolah; pekerjaan dan pelayanan kita. 

Raja Daud pun percaya kepada Tuhan dalam kehidupannya dengan segala permasalahannya. Raja Daud hanya percaya Tuhanlah satu satunya dasar segalanya dan menghiburnya. Dia terus bermazmur, Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! (Mzm. 27:14).

Marilah kita selalu menaruh pengharapan kita pada Allah Tuhan kita yang sudah membuktikan kasih-Nya kepada kita. Dengan demikian maka kita bisa mengerti bahwa kita telah mengambil keputusan yang tepat dalam mengikuti Dia. Tuhan memberkati kita semua. (WYN)