Diutus dan Pergi

Renungan Jumat 30 November 2018, Pesta St. Andreas

Bacaan: Rm. 10:9-18Mzm. 19:2-3,4-5Mat. 4:18-22

DIUTUS DAN PERGI

Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? (Rm. 10:15a)

Setiap akhir misa, romo menutupnya dengan kalimat, “Pergilah engkau diutus”. Dan umat menjawabnya “Amin”. Namun beberapa orang tidak mau menjawab “Amin” karena merasa tidak mampu melaksanakan “Amanat Agung”, yaitu menjadikan semua bangsa murid Yesus dan membaptisnya. Jika kita tidak mau diutus, lalu bagaimana kita dapat memberitakan kabar baik, keselamatan yang dari Allah, bahwa kita sudah lunas dibayar oleh darah Kristus di kayu salib?

Bila kita meringkas Roma 10:13-15 ( selamat – berseru – percaya – orang lain mendengar – memberitakan – diutus – selamat). Maka sudah seharusnya seseorang yang mengalami anugerah keselamatan Allah, akan dengan senang hati diutus untuk memberitakan kabar baik Kristus sehingga orang lain yang mendengarnya sungguh-sungguh percaya dan berseru kepada nama Tuhan maka ia akan selamat. Rangkaian proses ini akan berulang terus secara estafet, tetapi “pendengarnya” yang berganti menjadi “pembawa/pemberita” kabar baik .

Seorang ibu bersaksi bahwa ia menjadi Katolik “hanya” karena setiap hari Minggu (sejak SD sampai SMA) melihat teman sepermainannya di masa kecil, selalu ke gereja dengan penuh sukacita. Suatu hari ia mengikuti misa bersama temannya itu. Untuk pertama kali di dalam hidupnya ia merasakan damai sekaligus sukacita yang luar biasa, yang sulit diungkapkan. Selama belasan tahun hatinya selalu bertanya mengapa temannya selalu ceria seakan tidak pernah punya masalah. Apakah karena mempunyai orang tua yang baik hati. Ternyata iman kepada “Nabi Isa” yang membuat  temannya sekeluarga selalu hidup dengan penuh damai dan sukacita, sangat bertolak belakang dengan keadaan keluarganya. Akhirnya selepas SMA ia dibaptis. Sekarang memiliki 3 orang anak dan sangat bersyukur bisa menikah dengan orang Katolik juga.

Sang teman sepermainan masa kecil itu, sudah menjawab “ya” dan “pergi”. Ia mau diutus untuk memberitakan Kristus yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan kita? (LNO)