Aku atau Tuhan

Renungan Sabtu 3 November 2018

Bacaan: Flp. 1:18b-26Mzm. 42:2,3,5bcdLuk. 14:1,7-11

AKU ATAU TUHAN

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk. 14:11) 

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Bacaan liturgi gereja hari ini mengajak kita untuk merefleksi diri, siapa yang menjadi pusat hidup kita, apakah AKU atau Tuhan.

Seseorang yang hidupnya berpusat pada AKU, cenderung untuk mencari pujian bagi dirinya sendiri, meninggikan dirinya, mencari kehormatan bagi dirinya sendiri. Tolok ukurnya adalah dirinya sendiri, diuntungkan atau dirugikan.

Sedangkan seorang yang hidupnya berpusat pada TUHAN, memiliki kerinduan untuk selalu bersatu dengan Tuhan, seperti yang diungkapkan si pemazmur, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup.” Seseorang yang hidupnya berpusat pada TUHAN, hidup dan matinya dipersembahkan untuk memuliakan Tuhan (Flp. 1:20-21), tidak lagi mencari pujian bagi dirinya sendiri, tidak lagi mencari kehormatan bagi dirinya sendiri, seperti yang diminta Tuhan Yesus dalam Injil hari ini. Hidupnya di dunia dilakukan untuk bekerja menghasilkan buah (Flp. 1:22), buah keselamatan yang diperoleh dengan mewartakan kabar baik.

Di dalam bait pengantar Injil, Tuhan Yesus mengajarkan kepada setiap kita, cara untuk bisa beralih dari hidup yang berpusat pada ego sendiri ke hidup yang berpusat pada Tuhan, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29ab).

Jangan pernah katakan tidak mungkin bisa. Orang yang mengatakan ini menunjukkan bahwa hidupnya tetap berpusat pada dirinya sendiri, sehingga yang terlihat hanya keterbatasan dirinya, ketidakmampuannya. Lihatlah ketidakterbatasan Allah.

Firman Allah dengan jelas mengatakan “tidak ada yang mustahil bagi Allah” dan juga “tidak ada yang mustahil bagi orang percaya.”

Percayalah Tuhan tidak pernah salah.

Perlu ada kerjasama. Bagianku adalah “PERCAYA” serta didukung oleh doa teman-teman sekomunitas dan Tuhan akan memberikan pertolongan melalui Roh-Nya (Flp. 1:19).

Kita belajar dari Saulus atau Paulus. Semula Saulus adalah seorang yang memusuhi pengikut Kristus. Saulus adalah murid terpandai dari Gamaliel, seorang profesor Farisi yang sangat terkenal zaman itu. Saulus mengejar, menangkap dan menganiaya pengikut Kristus, karena Yesus Kristus dan pengikutnya dianggap sebagai sekte sesat. Saat akan masuk ke Damsyik, Saulus mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang sudah bangkit dan itu mengubah sepenuhnya hidup Saulus. Dari hidup yang berpusat pada diri sendiri ke hidup yang berpusat pada Tuhan. Saulus yang ahli firman Allah, menyadari bahwa segala janji Allah mengenai Mesias sudah digenapi di dalam Yesus Kristus. Itulah yang dia wartakan. Paulus bahkan mengatakan, bahwa segala sesuatu yang dahulu dia anggap sangat berharga, sekarang dipandang seperti sampah setelah menemukan kebenaran ini. Hidup Paulus berubah total. Melalui Paulus, Injil akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Orang-orang yang percaya diselamatkan dan nama Allah semakin dipermuliakan.

Bagaimana dengan diriku?

– Sudahkan Tuhan Yesus yang menjadi pusat hidupku ataukah masih egoku?

– Sudahkah aku memiliki relasi intim dengan Tuhan?

– Sudahkah dengan penuh sukacita kabar baik ini aku wartakan dalam hidup sehari-hariku?

Doa: Allah Bapa di sorga, tolonglah kami melalui Roh Kudus-Mu agar dapat menjalani hidup yang berpusat pada Tuhan Yesus dan mewartakan Injil-Mu. Demi Kristus Tuhan kami, yang hidup bersama Dikau, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin. (HLTW)