Yang Terbesar

Renungan Senin 1 Oktober 2018, Pesta St. Teresia dr Kanak-kanak Yesus

Bacaan: Ayb. 1:6-22Mzm. 17:1,2-3,6-7Luk. 9:46-50. atau : Yes. 66:10-14b atau 1Kor. 12:31-13:13Mat. 18:1-4

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SORGA

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. (Mat. 18:4)

Dalam perikop ini Tuhan Yesus hendak menunjukkan kepada kita bagaimana agar kita dapat menjadi warga Kerajaan Sorga. Kata pertama yang dikatakan Yesus adalah bertobat. Kata bertobat dalam perikop ini mempunyai pengertian yang artinya BERUBAH. Kata berubah dalam bahasa Yunani adalah metamorphose. Kata metamorphose akrab kita kenal dalam istilah biologi yaitu proses perubahan larva menjadi kupu-kupu yang indah. Diawali dari telur menjadi kepompong ke ulat dan akhirnya kupu-kupu. Jadi yang dimaksudkan Yesus dengan kata bertobat adalah perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru. Di mana seseorang meninggalkan cara hidup lama yang hidupnya berfokus pada diri sendiri serta dipimpin oleh dirinya sendiri yang penuh dengan egoisme, serakah, tidak memikirkan akibat dari perbuatan kita yang dapat merugikan orang lain, tidak peduli pada kebutuhan sesama, bersikap munafik, muda menyalahkan orang lain, mudah menghakimi, penuh kekuatiran, tidak pernah merasa puas. Itu semua pernah saya alami sebelum saya mengalami pembaruan hidup yang berfokus kepada Tuhan dan dipimpin oleh Roh Kudus yang indah dan kudus.

Untuk kita mengubah hidup dari cara lama ke cara baru, akan dapat terjadi kalau kita mau bersikap atau memiliki hati seperti anak kecil. Itulah sebabnya Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Yesus menggunakan anak kecil sebagai model posisi hati dalam bertobat, karena anak kecil itu polos, lugu, belum tercemar oleh pikiran yang negatif, percaya, tidak kuatir dan terus terang.

Saya teringat anak saya yang kecil waktu itu kelas 1 SD, tidak masuk sekolah karena tidak dapat bangun pagi. Keesokan harinya waktu masuk sekolah saya lupa tidak membawakan surat keterangan tentang absennya. Waktu pulang sekolah saya tanya, apakah dia ditanya oleh Ibu Guru tentang absennya, dia menjawab bahwa gurunya bertanya. Lalu saya bertanya ke anak saya apa yang dia jawab. Oleh anak saya dijawabnya dengan ringan bahwa dia tidak bisa bangun. Saya bertanya lagi apakah dia tidak takut dimarahi gurunya dengan menjawab begitu. Anak saya menjawab bahwa dia tidak takut, karena menjawab jujur menjadi tidak terbeban. Saya menjadi merasa malu saat itu.

Sikap seperti inilah yang Yesus maksudkan dalam perikop ini, yaitu menjadi seperti anak kecil yang polos, yang tidak terbebani pikiran macam-macam, tidak terbebani berbagai persoalan. Justru di sinilah dipakai Yesus untuk menerangkan bagaimana cara menjadi yang terbesar.

Ada satu hukum rohani yang kontra dengan hukum duniawi. Di dalam kekristenan, seseorang harus merendahkan diri untuk menjadi yang terbesar secara rohani. Jadi kita mengerti sekarang mengapa Allah begitu serius dengan urusan hati. Allah tidak melihat bentuk fisik seperti kebiasaan manusia. Allah menaruh perhatian lebih kepada hati dibanding hal-hal yang jasmaniah.

Benang emas dari kehidupan seorang anak kecil adalah kemampuan mereka untuk memercayai seseorang dan menggantungkan diri mereka sepenuhnya kepada orang yang mereka percayai. Kita dapat belajar dari kehidupan seorang anak kecil, yaitu kehidupan yang memercayai janji-janji Tuhan dan menggantungkan kehidupan kita sepenuhnya kepada Tuhan. Maka bila kita ingin menjadi yang terbesar dalam kerajaan sorga, Yesus menganjurkan kita untuk bertobat, merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil. Tuhan memberkati kita. Amin. (SWW)