Pintu Yang Sesak

Renungan Rabu 31 Oktober 2018

Bacaan: Ef. 6:1-9Mzm. 145:10-11,12-13ab,13cd-14Luk. 13:22-30

PINTU YANG SESAK

Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. (Luk. 13:24)

Saudara terkasih saya mencoba membayangkan dalam sebuah pertandingan sepak bola, lalu di tengah jalannya pertandingan terjadi keributan, di mana terdapat lebih dari sepuluh ribu orang penonton yang akan berbondong-bondong, berdesak-desakan untuk berjuang keluar dari stadion tersebut melalui pintu yang tidak terlalu besar (cukup sempit) untuk mengeluarkan manusia sebanyak itu dalam waktu yang singkat, maka setiap orang akan berjuang sekuat tenaga untuk melewati pintu yang sempit itu agar dapat segera keluar menyelamatkan diri. Seandainya kita berada dalam stadion tersebut, maka kita juga akan berjuang sekuat tenaga agar kita bisa sesegera mungkin keluar melalui pintu yang sempit tersebut agar selamat.

Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa hal yang lebih penting menurut Tuhan Yesus adalah: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!” (Luk. 13:24). Berjuang melalui pintu yang sempit dalam stadion tersebut akan menyelamatkan tubuh jasmani kita, tetapi Tuhan menghendaki bukan tubuh jasmani saja yang selamat, namun tubuh rohani kita jauh lebih penting daripada tubuh jasmani yang harus kita selamatkan dengan berjuang sekuat tenaga melalui pintu yang sempit dalam perumpaan Injil Lukas tersebut.

Keselamatan jiwa adalah rahmat dari Tuhan yang artinya keselamatan itu adalah anugerah pemberian cuma-cuma dari Tuhan, tidak dapat dibeli dengan uang. Untuk mendapatkan rahmat keselamatan dari Tuhan dibutuhkan kerjasama dan perjuangan dari pihak manusia yang hendak menerima rahmat. Rahmat keselamatan yang kita terima oleh iman, harus diperjuangkan, dibuktikan dengan perbuatan baik, rahmat keselamatan tidak dapat diperoleh dengan “hanya beriman saja” atau “Sola Fide”, hanya dengan mengucap aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah sang juru selamat maka hidup kita akan selamat, tentu saja tidak bisa demikian saja (baca: Yak. 2:17).

Keselamatan harus diperjuangkan, maka dibutuhkan kerja sama antara sang pemberi rahmat (Tuhan) dan penerima rahmat (manusia), seperti perumpamaan ragi dalam Luk. 13:21 “Kerajaan Allah itu seperti ragi yang diambil seorang perempuan dan dicampurkannya dalam 3 sukat tepung sampai seluruh adonan itu mengembang.” Hidup kita harus diberi ragi Kristus agar hidup kita ini dapat berkembang bagaikan adonan roti yang mengembang dengan baik dan dapat dinikmati oleh orang di sekitar kita terutama keluarga kita dan menyenangkan hati Tuhan.

Marilah saudara kita berjuang melalui pintu yang sesak, artinya kita harus bekerja keras dalam iman dan perbuatan, memikul salib yang membawa pada keselamatan, siap menderita bersama Kristus, menjadi saksi Kristus. Yesus sering mengajarkan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan (kerja keras), yang membuat orang dapat bertahan menghadapi berbagai ujian hidup di mana Tuhan izinkan hadir dalam hidup kita. Maka kita harus tetap tegar, pantang menyerah jauhkan rasa putus asa melainkan semakin kuat dalam iman dan perbuatan hingga menghasilkan buah kemenangan dalam kebenaran yang akan memberi kita damai sejahtera, dan bila kita berhasil melalui ujian hidup tersebut, maka kesaksian hidup kita dapat pula membangun iman orang-orang yang mendengarkan kesaksian hidup kita.

Teringat akan sebuah pepatah “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Tuhan itu setia, dan kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya (Mzm. 117:2), teruslah berjuang melalui pintu yang sesak untuk memperoleh keselamatan,Yesus tak pernah meninggalkan kita, Ia telah menyiapkan tempat yang indah bagi kita dan akan menjemput kita serta membawa kita ke tempat di mana Ia berada (lihat Yoh. 14:3).

Pesan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku.” (Luk. 9:23,) karena “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Tuhan Yesus memberkati kita semua. (IGP)