Luar Dalam

Renungan Selasa 16 Oktober 2018

Bacaan: Gal. 4:31b-5:6Mzm. 119:41,43,44,45,47,48Luk. 11:37-41

LUAR DALAM

Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. (Luk. 11:39).

Dalam kehidupan, sering kali kita melihat atau menilai orang dari penampilan luar, cara berbusana, naik mobil apa, gaya bicaranya bagaimana. Kebiasaan ini sudah ada sejak zaman Yesus, di mana orang Farisi menilai Yesus tidak baik karena tidak mencuci tangan sebelum makan. Tradisi bangsa Yahudi waktu itu, apabila orang hendak makan, harus mencuci tangan terlebih dahulu. Kalau tidak mencuci tangan sebelum makan orang Yahudi merasa Najis.

Injil hari ini Yesus mengecam perbuatan orang Yahudi tersebut. Karena bagi Yesus yang terpenting adalah sumbernya yang dalam, bukan penampilan luar yang kelihatan. Orang Farisi lupa yang paling penting yaitu maknanya.

Kebiasaan orang zaman dulu dan zaman now, tidak ada bedanya. Sering kali terlalu cepat menilai seseorang dari luarnya saja. Kalau kita hendak melihat orang, lihatlah kepribadian yang paling dalam dari orang tersebut. Yang jelek dari luar belum tentu jelek dan yang kelihatan baik dari luar belum tentu baik. Maka kita tidak boleh tergesa-gesa menilai orang, ini memerlukan pendekatan yang lebih dalam.

Suatu ketika saya bertemu teman kuliah yang sudah lama tidak bertemu, saya terkejut karena tidak biasanya dia memakai mobil mewah dan dandanannya berbeda sekali. Kita saling bercerita dan makan bersama untuk melepas rindu. Saya katakan kalau dia sekarang sudah mapan dan menjadi orang kaya. Dia tersenyum dan mengatakan pada saya bahwa semua tampilan itu hanya fasilitas dari kantor, sedangkan saat ini dia mempunyai masalah dengan tagihan kartu kredit dan mau meminjam uang. Saya tersadar bahwa saya tidak boleh menilai orang dari penampilan luar saja, sedangkan kenyataannya belum tentu demikian.

Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. (Luk. 11:39).

Kutipan Injil yang dikatakan Yesus ini menentang perbuatan orang Farisi di zaman itu. Namun pesan Yesus masih tetap sampai kepada kita saat ini, untuk tidak hanya menampilkan bagian luarnya saja. Tetapi kita harus bisa menampilkan diri apa adanya. Apa yang ada dalam diri harus kita tunjukkan yang sebenarnya apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan diri. Jangan bertopeng dengan menampilkan diri hanya supaya disenangi oleh orang lain. Orang akan merasa senang apabila kita jujur dalam penampilan diri yang sesungguhnya bukan yang dibuat-buat hanya untuk mendapat pujian atau menipu orang lain dengan maksud jahat. Tampil jujur dalam hidup adalah bagian dari rasa syukur.

Tuhan berilah aku keberanian untuk tampil jujur seperti apa adanya dan mensyukuri akan rejeki dan rahmat-Mu dalam hidupku. Amin. (SWK)