Berjaga-Jaga Dalam Hadirat Allah

Renungan Rabu 24 Oktober 2018

Bacaan: Ef. 3:2-12; MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6Luk. 12:39-48

BERJAGA-JAGA DALAM HADIRAT ALLAH

Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan. (Luk. 12:40)

Bacaan Injil pada hari ini mengajak kita bersiap sedia untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua pada akhir zaman, dan dalam pengertian yang lebih luas mengajak kita untuk bersiap sedia menanggapi panggilan Allah dalam kehidupan kita, suatu panggilan untuk berjumpa dengan Allah secara pribadi dalam apapun situasi kehidupan kita.

Baru-baru ini ada dua peristiwa yang mengingatkan saya kembali, untuk terus bersiap sedia, terus berjaga-jaga dalam hadirat Allah. Saya melihat post di Facebook dari teman sekomunitas, rupanya dia sedang sibuk kerja ikut membuat roti dalam kegiatan retret pribadinya di pertapaan rahib-rahib Trappist (OCSO) di Rawaseneng. Sebuah biara yang menekankan penghayatan berdoa dan bekerja dalam hadirat Tuhan. Beberapa hari kemudian, karena toko sedang sepi, saya duduk sambil memandang salib dan gambar Bunda Maria Penolong Abadi yang saya pasang di dinding meja kerja saya. Tiba-tiba hati dipenuhi syukur, karena mempunyai tempat yang walaupun sederhana di dalam toko, di mana saya dapat berjumpa dengan Allah secara pribadi: ada saatnya melayani pembeli, ada saatnya kulakan, ada saatnya menghargai barang, tetapi ada saatnya menyadari kehadiran Tuhan secara pribadi.

Dua peristiwa yang berbeda ini menjadi bahan perenungan, bagaimana seharusnya kita berjaga-jaga menyambut kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari kita dan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman ataupun kedatangan-Nya pada saat Dia menjemput kita pada saat kematian kita.

Saya teringat seorang bruder sederhana, bahkan dikenal bodoh, tetapi setelah melalui proses pemurnian, dia dikaruniai kebijaksaan Ilahi, dan dia dipakai oleh Tuhan menjadi pembimbing rohani bagi banyak orang, bruder yang sederhana itu ialah Bruder Laurentius dari Kebangkitan (1614-1691). Ada suatu pesan yang disampaikan melalui kesaksian hidupnya supaya kita terus berusaha hidup di hadirat Allah.

“Orang-orang mencari metode untuk belajar mencintai Allah. Mereka ingin mencapainya dengan pelbagai cara. Mereka berusaha untuk hidup di hadirat Allah dengan pelbagai cara yang sangat berbeda. Bukankah adalah lebih sederhana dan lebih praktis, bila kita mengerjakan segala sesuatu demi cinta kasih kepada Allah? Manfaatkanlah segala pekerjaan untuk menunjukkan kepada-Nya cinta kasih kita, dan selalu menyadari kehadiran-Nya di dalam diri kita lewat pergaulan dari hati ke hati dengan Dia. Kita hanya perlu bersikap bijaksana dan mulai dari yang serba sederhana.”

[baca selengkapnya dalam tulisan saya beberapa tahun lalu untuk Facebook, Doa dan Ucapan Syukur
https://www.facebook.com/notes/doa-dan-ucapan-syukur/bruder-laurentius-dari-kebangkitan/142605614856/]

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk selalu bersiap sedia dan berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan-Nya, dan sarana praktis untuk terus berjaga-jaga di tengah-tengah kehidupan kita sehari-hari, di tengah pekerjaan, di tengah keluarga, dalam pelbagai kegiatan dan aktivitas, ialah dengan terus berusaha menyadari kehadiran Allah, dan berusaha menghayati hidup dalam persahabatan dengan Dia, karena Allah sendiri telah memanggil kita menjadi sahabat-sahabat-Nya (bdk. Yoh 15:14).

Allah hadir di mana-mana, Allah hadir dalam lubuk terdalam jiwa kita, karena rahmat Sakramen Pembaptisan yang kita terima, Allah selalu hadir dan Maha Hadir, “sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Tetapi yang menjadi persoalan, kitalah yang seringkali mengabaikan, acuh tak acuh, bahkan tidak tahu akan kehadiran Allah yang Maha Hadir. Oleh karena itu kita perlu mulai dari yang paling sederhana, mulai dari hidup kita sehari-hari, seperti nasihat Bruder Laurentius di atas dengan melakukan segala aktivitas dan pekerjaan demi kasih kepada Allah, seperti yang ditulis oleh rasul St. Paulus sendiri :
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Kor. 10:31).

Sebuah nasihat dari Bapa Gereja, St. Yohanes Krisostomus (347-407):
“Malahan di pasar atau waktu berjalan-jalan dalam kesunyian, kamu dapat sering dan melakukan dengan berdoa. Juga, apabila kamu duduk di dalam perusahaan, atau waktu menjual atau membeli, malahan juga waktu kamu memasak, kamu juga dapat sambil berdoa.”

Tuhan Yesus, utuslah Roh Kudus-Mu untuk menolong kami terus berjaga-jaga di hadirat-Nya, dengan terus menyadari kehadiran-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari dan mempersembahkan seluruh aktivitas dan pekerjaan kami demi cinta kasih kepada-Mu. Amin. (EFT)