Terdahulu dan Terakhir

Renungan Minggu 23 September 2018, Hari Minggu Biasa XXV

Bacaan: Keb. 2:12,17-20Mzm. 54:3-4,5,6,8Yak. 3:16-4:3Mrk. 9:30-37

TERDAHULU DAN TERAKHIR

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35)

Sewaktu Yesus bersama para murid-Nya berjalan melewati Galilea, Dia menceriterakan kepada mereka apa yang bakal dihadapi-Nya, bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Namun tidak ada seorang pun dari mereka yang menanggapi perkataan-Nya, murid-murid-Nya tidak menangkap apa yang dikatakan oleh Yesus. Tetapi walaupun tidak mengerti, mereka enggan bertanya (Mrk. 9:32).        

Kita mengenal peribahasa “malu bertanya, sesat di jalan”. Ini dialami para murid, Yesus berbicara tentang penderitaan yang akan dialami-Nya dan pengorbanan yang akan dilakukan-Nya, mereka justru berdiskusi sendiri dan bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Dari apa yang dikatakan Yesus saat itu dengan apa yang diperbincangkan oleh murid-murid-Nya jelas sama sekali tidak berkorelasi. Mereka memiliki pemikiran bahwa Yesus Kristus adalah pemimpin versi dunia, dengan kuasa dunia dan setelah kematian-Nya maka kepemimpinan-Nya harus ada yang meneruskan di antara para murid-Nya. Maka topik perbincangan mereka adalah siapakah yang terbesar di antara mereka yang akan mengambil alih kepemimpinan Yesus Kristus. Mereka tidak sungguh-sungguh mengerti akan arti kemesiasan Tuhan Yesus. Ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju salib, mereka justru berebut kuasa. Bayangkan bagaimana perasaan Tuhan Yesus mengetahui pola pikir para murid yang telah Dia didik secara khusus itu. Mereka lupa bahwa panggilan menjadi murid adalah panggilan untuk “berjalan” bersama Yesus, mendengarkan perkataan Yesus, melakukan dan melayani seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri.

Menyadari pemikiran para murid yang gagal paham itu, maka Yesus mengumpulkan mereka dan berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas, kekayaan dan ambisi agar diperhatikan dan dihargai. Padahal Yesus mengajarkan:  

  • Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya dimuliakan, melainkan menempatkan diri untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama.                
  • Kepemimpinan sejati bukanlah berada di depan melainkan berada di tempat paling belakang. Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba menjadi pelayan.                                       

Untuk menjelaskan ini, Yesus lalu mengambil seorang anak kecil sebagai model (Mrk. 9:36) dan memeluknya. Seorang anak kecil yang masih polos dan murni dan baik, bahkan dianggap lemah. Namun Yesus berkata, barangsiapa menyambut seorang anak kecil yang demikian itu, dalam nama-Nya, berarti dia menyambut Yesus. Inilah arti seorang pemimpin sejati bahwa Dia harus merendahkan diri dan menjadi hamba yang melayani. Melayani orang kecil yang lemah, yang tak berdaya, tidak memiliki apa-apa, tidak punya kuasa dan wibawa, kepada siapapun yang butuh pertolongan.

Hal-hal yang menjadi peringatan bagi kita melalui bacaan Injil hari ini.

  1. Sebagai pengikut Kristus kita menyadari “sedang berjalan bersama dengan Yesus di sepanjang kehidupan ini”. Tetapi apakah kita berjalan bersama Yesus dan sungguh mendengarkan perkataan Dia ataukah kita berjalan bersama Yesus tetapi asyik berbicara sendiri dan sibuk dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri yang sama sekali “tidak berkorelasi” dengan apa yang dikatakan Yesus?  
  2. Dalam hidup ini kita juga masih terus-menerus diperdaya oleh godaan untuk menjadi yang “ter-”, terbesar, terkemuka, terdepan, terpenting, pokoknya ingin “lebih” dari orang lain. Hasrat untuk menjadi “lebih” seharusnya tidak dimiliki oleh seorang pengikut Yesus karena dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan.

Seorang murid harus memiliki hati seorang hamba yang merendahkan diri dan  mengutamakan orang lain. Ingat teladan Tuhan Yesus pada saat hidup-Nya yang telah merendahkan diri-Nya rela dianggap tidak berarti dan rela memikul salib demi kita semua.

Doa: Tuhan Yesus, sembari berjalan bersama-Mu dalam hidup ini, tolonglah kami untuk mau mendengarkan perkataan-Mu serta mampu melakukan kehendak-Mu. Tolong kami untuk melepaskan diri dari jeratan hal-hal dan aturan-aturan versi dunia dan anugerahkan kepada kami kemerdekaan sehingga bisa menjadi murid-Mu yang sejati yang melayani Engkau dan sesama dengan penuh kerendahan hati. Amin. (MFBD)

 

Hasil gambar untuk mark 9:35