Sukacita Pengampunan

Renungan Kamis 20 September 2018

Bacaan: 1Kor. 15:1-11Mzm. 118:1-2,16ab-17,28Luk. 7:36-50

SUKACITA PENGAMPUNAN

Lalu Ia berkata kepada wanita itu: “Dosamu telah diampuni.” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk. 7:48.50)

Selalu menjadi pertanyaan di benak saya ketika membaca akhir perikop Lukas 7 tentang Yesus yang diurapi wanita berdosa. Apakah wanita itu menangis karena menyesal akan dosanya ataukah sebaliknya; dia menangis karena mengalami sukacita yang begitu besar sebab wanita ini dikenal dengan sebagai seorang pendosa namun mendapat kehormatan untuk melayani Tuhan?

Saya cenderung memilih yang kedua, bahwa dia menangis karena luapan rasa syukur saat berdekatan dengan Yesus. Wanita ini bahkan membasuh kaki Yesus dengan air matanya, tentunya air mata sukacita. Mengapa? Karena hatinya sangat bahagia bisa berada begitu dekat dengan Juru Selamat yang begitu ditunggu dan dirindukannya. Kemudian Anda melihat bahwa wanita ini mencium kaki-Nya, sebagai tanda bersyukur yang sangat dalam. Saat dia menangis akibat rasa syukur, ia menyekanya dengan rambutnya. Hal ini persis melambangkan orang yang sepenuhnya mengabdi dan menanggalkan ke-aku-an-nya karena belas kasih Kristus sajalah. Terakhir, wanita ini meminyaki-Nya dengan minyak wangi, yang menjadi kegenapan arti dari Sang Mesias (yang diurapi).

-sela-

Coba saat ini kita menganalisa kembali hubungan dan urutan antara pengampunan, kasih, penyesalan, syukur, iman dan sebagainya, makanah yang terlebih dahulu ia alami? Tampaknya semakin membingungkan.

Tetapi kebingungan dari bagian ini ternyata menyadarkan saya bahwa dalam kehidupan rohani ternyata terdapat suatu kesatuan yang tidak dapat diputuskan, yaitu: penyesalan dan syukur, iman dan perbuatan, tobat dan lahir baru, pengampunan dan kasih; di mana semuanya saling terhubung erat dan tidak dapat dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lain. Kesadaran ini yang sebetulnya saya peroleh dari akhir perikop 7.

Akhirnya, Yesus menyuruh wanita itu pulang sambil mengatakan perkataan yang sama pada seorang yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dalam Lukas 8:48 “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat”.  Saya melihat Yesus sepertinya tidak begitu peduli dengan bahasa atau kata-kata wanita itu (jikalau ada); namun tampak dari perbuatan nyata yang dilakukan tadi sudahlah lebih dari cukup untuk menyiratkan harapannya. Dan Tuhan Yesus pun hanya berkata pendek “Dosamu telah diampuni.”

Saat ini mari kita bersyukur hanya kepada Allah yang bisa mengampuni dosa manusia, seberapa pun besarnya dosa itu. Dan rasakanlah suatu kekuatan luar biasa, di mana Yesus bisa mengubah seseorang dari kondisi/situasi menekan selama ini yang timbul akibat dosanya, menjadi suatu kelegaan, kegembiraan, kebahagiaan, sukacita, harapan dan sejenisnya yang pada intinya menjadi suatu komitmen hidup baru dalam sukacita keselamatan.

Kapan terakhir kali Anda menerima pengampunan dosa?

Tuhan Yesus mengasihi kita semua.

amdg, vmg.

Related image