Sok Tahu

Renungan Selasa 4 September 2018

Bacaan: 1Kor. 2:10b-16Mzm. 145:8-9,10-11,12-13ab,13cd-14Luk. 4:31-37

SOK TAHU

“Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Luk. 4:34)

Pada zaman sekarang, pengaruh setan terasa amat kuat. Secara demonstratif, ia mewujudkan diri di kehidupan nyata maupun di media sosial dalam berbagai bentuk kekerasan, pembodohan, adu domba, kebencian, iri hati, beserta akibatnya. Orang mudah terpengaruh dengan hal-hal yang wow, yang menonjol meskipun itu merugikan diri sendiri maupun orang lain. Berbagai kejahatan itu berdampak pada diri sendiri dan masyarakat.

Mengapa hal itu terus menerus terjadi? Pertama, setan memengaruhi kehidupan manusia sejak manusia pertama diciptakan Tuhan, Yesus pun digoda setan setelah Dia selesai berpuasa dan Yesus mengusirnya, Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Mat. 4:10). Setan pergi dan menunggu waktu yang baik (Luk. 4:13). Kedua, manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, mereka tidak dapat memahami sebab hanya dapat dinilai secara rohani, bagi mereka menerima kebenaran yang berasal dari Allah merupakan suatu kebodohan. Mereka sok tahu informasi dunia karena ada kekhawatiran ketinggalan zaman.  

Tipu daya setan tidak hanya bekerja di tempat umum, maupun dalam keluarga, tetapi di rumah ibadat pun setan bekerja. Injil hari ini berbicara tentang seseorang yang dirasuki setan dan  berteriak dengan suara keras “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau Yang Kudus dari Allah.” (Luk. 4:34). Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Allah menyelidik segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi, maka ketika setan berpura-pura atau sok tahu menyapa Yesus, dengan penuh kuasa Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, maka secara pribadi, kita pun harus berjuang ikut memerangi si jahat dengan membangun relasi semakin mendalam dengan merenungkan firman Tuhan, sehingga kita dimampukan untuk hidup benar, menyaring informasi yang masuk melalui media sosial maupun dalam kehidupan nyata. Dengan doa, kita dapat mendengarkan suara Tuhan, di mana kita bisa mengungkapkan pergumulan dan kebimbangan kita kepada Tuhan, sehingga kita tidak mudah terpengaruh dan dipengaruhi oleh tipu muslihat setan. Dengan sakramen-sakramen, hidup kita selalu diperbarui. Ketika kita merasa tidak punya teman, kita berkumpul berkomunitas dengan saudara-saudari seiman sehingga kita tidak merasa terpuruk tetapi kita saling meneguhkan.

Selain itu, Tuhan Yesus lebih dahulu telah memberi Roh Kudus-Nya kepada kita yang sudah dibaptis untuk melayani sesama dengan penuh kasih. Wibawa dan kuasa Yesus kita butuhkan untuk melayani sesama yang sakit, menderita, terbelenggu pelbagai masalah dan ikatan. Tanpa kuasa Roh Kudus kita tidak dapat melakukan pekerjaan-Nya secara efektif, dan dengan demikian, kita pun tidak menjadi orang yang sok tahu.

Doa: Syukur dan terima kasih Bapa, kami boleh memberitakan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia, kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari. Engkau Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-MU kepada setiap kami. Amin. (ECMW)

Hasil gambar untuk Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.