Jangan Menahan Kebaikan

Renungan Senin 24 September 2018

Bacaan: Ams. 3:27-34Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5Luk. 8:16-18

JANGAN MENAHAN KEBAIKAN

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu. (Ams. 3:27-28)

Ayat ini membuat saya termenung mengingat-ingat apa yang sudah saya lakukan, tentang kepedulian terhadap orang lain yang membutuhkan perhatian, namun terabaikan. Entah sadar atau tidak, entah perhatian atau tidak, entah peduli atau tidak. Kejadian-kejadian sehari-hari yang sering kita jumpai melalui pengamen yang datang ke rumah, pengemis yang rutin datang untuk meminta-minta atau ketemu di jalanan, pemulung yang tampaknya lesu kelelahan, tukang sampah yang berat mendorong gerobak sampah atau sedang membersihkan sampah di rumah kita, dan banyak lagi peristiwa semacam itu. Orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita. Kita yang seharusnya dapat memberi perhatian dan kasih kepada mereka, namun tidak kita lakukan karena berbagai alasan di antaranya seperti tersebut di atas.

Lalu saya teringat peristiwa yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Pagi itu saya sedang terburu-buru masuk kantor. Sedang melewati rumah seorang janda tua yang tinggal sendirian di sebuah rumah sangat sederhana tanpa pintu, hanya ada atap saja sehingga siapa yang lewat bisa melihat sampai ke dalam rumah. Saya melihat ibu itu sedang tergolek di lantai. Demikian memang keadaannya sehari-hari karena tidak ada tempat tidur. Di bawah tubuhnya terlihat ada genangan darah, dia memang sudah lama sakit pendarahan.

Hati kecil berbicara, “Mandikan dia.” Saya terdorong, tetapi karena buru-buru harus ke kantor dan saya tidak suka terlambat, saya mengabaikannya. Sore harinya pulang dari bekerja, rumah ibu itu sudah penuh orang yang sedang berdoa, ternyata ibu itu sudah meninggal. Timbul rasa penyesalan yang dalam di hati saya, kenapa saya tidak memandikan dia tadi pagi.

Pengalaman lain ketika saya sedang berjalan di gang ke arah rumah, berpapasan dengan seorang pengemis, saya hanya melewati saja tidak melakukan apapun. Beberapa langkah ke depan hati saya terusik, kenapa saya tidak memberi uang kepada pengemis itu? Jelas dia sangat membutuhkan. Demikian terusiknya hati saya, lalu berbalik dengan maksud akan memberi uang. Tetapi pengemis itu sudah tidak ada, timbul penyesalan di dalam hati. Dan berjanji akan selalu memberi.

Peristiwa lain lagi ketika ada orang meminta bantuan. Hati kecil berbisik menyebut angka supaya saya berikan kepadanya. Tetapi yang saya berikan lebih kecil dari bisikan tadi. Setelah orangnya pergi saya menyesal kenapa harus saya kurangi? Sejak saat itu saya berjanji di dalam hati saya, akan selalu memberi sesuai dengan suara hati saya, karena apabila tidak saya lakukan, hati saya pasti akan terusik terus. Tidak akan berhenti kecuali saya temui orangnya dan memberi  sesuai bisikan hati.

Amsal 3:27-28 mengingatkan saya, jangan sampai terulang. Mendorong saya untuk selalu berbuat baik kepada siapapun. Murah hati, peduli tanpa membedakan dan mengikuti suara hati nurani, sebab suara hati adalah suara kebaikan dan sumber kebaikan adalah Tuhan. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk. 6:36)

Doa: Ya Bapa, betapa seringnya kami mengabaikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan kami dengan berbagai alasan. Mohon berilah lebih lagi kepekaan, kepedulian, empati kepada kami, agar kami sunguh-sungguh dapat menjadi kepanjangan tangan-Mu berbelaskasih kepada mereka dan murah hati, sebab Engkau sudah lebih dahulu murah hati kepada kami. Amin. (ANS)

Gambar terkait