Inilah Anakmu

Renungan Sabtu 15 September 2018, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

Bacaan: 1Kor. 15:1-11; atau Ibr. 5:7-9Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16, 20Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35

IBU INILAH ANAKMU

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” (Yoh. 19:26)

Menjadi seorang ibu adalah kehormatan dan kepercayaan dari Tuhan, tapi bukan tanpa duka cita. Hari ini Gereja mengenangkan kedukaan Santa Perawan Maria. Menjadi seorang ibu penyelamat manusia adalah suatu anugerah besar tetapi selalu disertai dengan kepedihan. Namun Bunda Maria memperoleh kekuatan khusus dari Tuhan untuk tetap bertahan, tabah dan setia penuh iman menghadapi salib hidup. Godaan, kesulitan dan rintangan, penderitaan dan kesusahan, tidak akan pernah berhenti.

Seperti yang sudah saya alami tiga tahun terakhir ini, urusan ekonomi keluarga belum selesai, anak laki-laki saya dinyatakan menderita kanker kelenjar getah bening, disusul anak terakhir mau masuk kuliah. Semuanya membutuhkan biaya. Puji Tuhan, berkat doa Bunda Maria, saya tetap setia, tabah dan beriman di tengah kesulitan hidup yang saya hadapi.

Saya sadar bahwa masalah yang saya hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang dihadapi Bunda Maria, kepasrahan total pada kehendak Allah untuk melahirkan Sang Penebus, bahkan Maria terlibat dalam setiap kepedihan yang dirasakan Yesus, Puteranya. Ia tegar berdiri di kaki salib dan menerima jenazah Sang Putera di pangkuannya.

Bunda Maria telah menjadi teladan ketaatan bagi saya dan saya percaya bahwa setiap persoalan hidup pasti ada jalan keluarnya maka di saat badai datang dalam kehidupan jangan pernah menolak karena ketika kita menolak maka kita tidak akan pernah mengalami yang terbaik dari Tuhan. Untuk mengalami Tuhan kita harus percaya, memiliki iman dan pengharapan.

Tuhan memberkati. (LFT)

Gambar terkait