Di Bawah Pohon Ara

Renungan Sabtu 29 September 2018

Bacaan: Dan. 7:9-10,13-14 atau Why. 12:7-12aMzm. 138:1-2a,2bc-3,4-5Yoh. 1:47-51.

DI BAWAH POHON ARA

Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” (Yoh. 1:47-48)

Dalam gambaran orang Yahudi, pohon ara adalah lambang kedamaian, pohon yang rindang dan berbuah-buah yang akan menjadi berkat bagi banyak kehidupan. Duduk di bawah pohon ara melambangkan orang yang selalu merindukan firman Allah, merenungkan dan merefleksikan dalam hidupnya sehingga orang bisa menemukan hikmat dan kebijaksanaan Allah dalam hidupnya.

Nabi Elia yang mengalami kelelahan dan ketakutan karena akan dibunuh Ahad, dia berlari ke puncak gunung Horeb, dia berusaha menemukan Tuhan dalam Angin besar dan kuat yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, tetapi tidak ada Tuhan di situ. Dan setelah angin datanglah gempa dan sesudah gempa datanglah api tetapi di situ pun Tuhan juga tidak ada. Tetapi Tuhan diketemukan dan berbicara kepada Elia dalam angin sepoi-sepoi.  

Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan hiruk pikuk, tidak jarang kita pun mengalami kejemuan, kelelahan, ketakutan-ketakutan yang menerjang kehidupan. Kita seperti Elia berlari ke sana ke mari mencari pertolongan Allah dan menyangka Allah bisa kita ketemukan dalam hal-hal yang spektakuler, yang heran, heboh, yang penuh dengan mujizat dan decak kagum. Kita asyik ke sana ke mari mengejar orang-orang yang (katanya) punya karunia bermacam-macam dan bisa menyelesaikan segala problem secara instan.

Tuhan Allah menjadikan manusia hidup dengan nafas-Nya dan itu dihembuskan ke dalam hati sanubari manusia. Ketika kita hidup dalam hiruk pikuk, ketakutan, kekhawatiran terus-menerus, tentu kita akan kesulitan mendengarkan suara Tuhan yang ada di dalam hati sanubari itu.

Natanael dipuji Tuhan sebagai orang Israel sejati dan tiada kepalsuan padanya karena selalu duduk di bawah pohon ara, berdoa, menggali sabda Allah, merenungkan, menyimpan sang sabda dalam hatinya dalam suasana keheningan dan meditasi sehingga ia bisa menemukan makna dan pesan yang mendalam tentang sang sabda itu.

Pada prakteknya banyak umat Allah yang takut untuk masuk ke dalam keheningan itu, takut duduk di bawah pohon ara, padahal dalam kesunyian dan keheningan itulah kita bisa mendengarkan dan berjumpa dengan Tuhan Allah.

Semoga perjumpaan Natanael dan Yesus di bawah pohon ara bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dalam merefleksikan iman. (FX83)