Di Atas Dasar Para Rasul

Renungan Selasa 11 September 2018, Yohanes Gabriel Perboyre

Bacaan: 1Kor. 6:1-11Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9bLuk. 6:12-19

Dibangun di Atas Dasar Para Rasul

Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. (Luk. 6:13-16)

Dalam Injil yang kita renungkan hari ini Tuhan Yesus memanggil dan memilih kedua belas para rasul yang akan menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil (bdk. Mat. 3:14). Para rasul ini manusia biasa, dengan segala kelebihan dan kelemahan-Nya, tetapi hanya karena rahmat dan panggilan Kristus, mereka dipakai Tuhan untuk menjadi dasar seluruh kehidupan Gereja. Hal ini sesuai dengan sifat Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Gereja adalah apostolik: Ia telah dibangun atas dasar kuat: atas “kedua belas Rasul Anak Domba” (Why. 21:14); ia tidak dapat dirobohkan Bdk. Mat 16:18.; ia tidak dapat salah dalam menyampaikan kebenaran; Kristus membimbingnya melalui Petrus dan para Rasul yang lain, yang ada dengannya dalam pengganti-penggantinya, Paus dan Dewan para Uskup. (KGK 869)

Kita bersyukur kepada Tuhan atas iman Katolik yang Tuhan anugerahkan kepada kita, iman yang dibangun di atas dasar para rasul. Iman yang tidak dapat dirobohkan (bdk. Mat. 16:18), yang terbukti dalam perjalanan sejarah, di tengah badai, tantangan dan hambatan, baik dari luar maupun dalam, Gereja tetap tegak berdiri, karena janji Tuhan sendiri, yang akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.

Dari Gerejalah kita menerima pengetahuan tentang Yesus Kristus, tentang firman-Nya, yang antara lain terkandung dalam Kitab Suci. Dari Gerejalah kita mengenal Kitab Suci. Namun, sekali lagi, yang diperbuat dan diajarkan Kristus tidak semuanya terkandung dalam Kitab Suci (bdk. Yoh. 21:25). Sesungguhnya kita hanya dapat mengenal Kristus lewat iman yang diwartakan Gereja. Dari tradisi Gereja itulah kita mengenal secara lengkap apa yang diajarkan dan dikehendaki Kristus bagi kita.

Dengan meraba Gereja dalam segala realitasnya, baik yang ilahi maupun yang manusiawi dengan segala kelemahannya, kita meraba Kristus. Karena itulah Gereja disebut Sakramen perjumpaan dengan Kristus, karena sakramen bukan lain dari tanda yang menghadirkan Kristus secara efektif. Kemudian tanda ini, yaitu Gereja, dijabarkan lebih lanjut di dalam Tujuh Sakramen Gereja. Tiap-tiap sakramen ini mengungkapkan satu aspek dari perjumpaan dengan Kristus. Oleh sebab itu sakramen-sakramen merupakan bagian hakiki dari perjumpaan kita dengan Kristus.

Beriman kepada Kristus berarti pula menerima Gereja seperti yang telah didirikan oleh Kristus sendiri. Kita tidak bebas mengimani dan menerima apa yang kita rasa baik dan kita kehendaki, sesuai dengan selera sendiri, melainkan kita harus menerima segala sesuatu seperti yang diajarkan dan dikehendaki Kristus.

Ajaran dan kehendak Kristus ini hanya kita jumpai dalam Gereja yang didirikan Kristus sejak semula dan yang kelangsungannya dijamin olehnya. Dan Gereja ini bukan lain adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dikatakan apostolik karena berasal dari para rasul dan diteruskan dengan setia melalui pengganti para rasul yaitu Sri Paus dan para Uskup hingga hari ini.

Dalam kenyataannya, Gereja dengan setia menyimpan, memelihara, mempertahankan warisan Kristus yang diterimanya lewat para rasul. Gereja jugalah yang dalam terang serta bimbingan Roh Kudus menafsirkan dan mengaplikasikannya untuk tiap-tiap zaman.

Dengan demikian Gereja, karena kehadiran Roh Kudus yang menjiwainya, mampu menanggapi tantangan-tantangan zaman sepanjang masa dengan tepat dan tanpa sesat. Kehadiran Roh Kudus ini secara istimewa menyertai para pemimpin Gereja, khususnya Sri Paus dan para Uskup, karena kepada mereka diserahkan tugas memimpin seluruh umat-Nya. Dan hanya kepada merekalah dijanjikan bimbingan khusus dari Roh Kudus dari ketidak sesatan. Oleh sebab itu, kita sebagai umatnya bisa tetap tinggal dalam jalan yang benar hanya bila kita tetap bersatu dengan para uskup dalam kesatuan dengan Sri Paus. Kalau seorang melepaskan diri dari kesatuan ini, maka akhirnya akan tersesat.

Sejarah juga telah membuktikan, bagaimana tangan Tuhan menyertai Gereja-Nya, bagaimana pada saat awal kelahirannya, Gereja harus menghadapi penguasa dunia pada waktu itu, yaitu kekaisaran Romawi, misalnya yang terkenal pada jaman kekaisaran Nero, bagaimana Gereja berusaha dihancurkan dan dimusnahkan. Dapat kita renungkan bagaimana Gereja awali menghayati imannya di tengah situasi penganiayaan zaman kekaisaran Romawi dan ini berlangung kurang lebih tiga abad lamanya. Sejarah membuktikan di tengah situasi penganiayaan, ketika Gereja mau dimusnahkan oleh para penguasa dunia dari zaman ke zaman, Gereja bukannya habis, tetapi justru semakin berkembang. Semua ini karena Tangan Allah sendiri yang menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.

Melalui perenungan ini, marilah kita berdoa dan mohon rahmat Tuhan supaya semakin diteguhkan dalam iman Katolik, mengimani Tuhan Yesus melalui Gereja-Nya yang satu, kudus dan apostolik. Amin. (ET)

Sumber: Artikel “Beriman pada Kristus Lewat Gereja”, Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm, Majalah Hidup dalam Roh edisi Nov-Des 1998, Tahun II/No. 6