Bangun dan Layani

Renungan Rabu 5 September 2018

Bacaan: 1Kor. 3:1-9Mzm. 33:12-13,14-15,20-21Luk. 4:38-44

BANGUN DAN LAYANI

Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. (Luk. 4:39)

Ibu mertua Simon, demikian ketiga Injil Sinoptik menyebut perempuan itu sehingga kita tidak mengetahui namanya. Kemunculannya hanya sesaat. Injil mencatat hanya 1-2 ayat. Tapi dari tokoh perempuan ini kita belajar sifat yang luar biasa yaitu rajin.

Disebutkan bahwa ia demam keras dan bukan demam biasa seperti tidak enak badan atau gejala flu. Kemungkinan ia sudah terbaring berhari-hari atau berminggu-minggu sehingga orang-orang meminta Yesus yang hadir segera menolongnya.

Pada saat penyakit itu meninggalkannya, ia segera bangun dan melayani mereka. Segera. Ia tidak bermalas-malasan lagi di tempat tidur menikmati kesembuhannya. Walaupun hal tersebut wajar mengingat ia baru sembuh. Ia juga tidak segera minta disuguhi makanan enak karena selama ini tidak bisa makan dengan lahap.

Melayani bisa melingkupi apa saja. Kemungkinan besar melayani dalam hal menyiapkan makan siang bagi mereka. Itu pekerjaan berjam-jam yang sangat melelahkan. Bukan angkat telpon untuk pesan makanan. Lalu makanan langsung dapat dinikmati. Risikonya bisa saja jatuh sakit lagi karena kelelahan.

Tapi perempuan itu tidak perduli karena pada dasarnya ia rajin sehingga rasa syukurnya diungkapkan dengan kerajinan dan hati yang gembira atas rahmat kesembuhan dari Allah.

Bagaimana dengan kita yang sudah merasakan kebaikan dan rahmat Allah sepanjang hidup ini? Seberapa sering kita menunda-nunda dengan dalih “sibuk” sehingga tidak sempat. Padahal ujung-ujungnya adalah “malas”?

Contohnya saya masih sempat nonton siaran langsung bulu tangkis dan upacara penutupan Asian Games di televisi selama dua jam. Sedangkan untuk pekerjaan yang seharusnya lebih prioritas, saya seringkali menundanya dengan berbagai macam alasan.

Menyambung pertanyaan di atas tadi. Coba kita renungkan lagi. Hal-hal apa saja yang masih ditunda-tunda? Kebetulan masih di bulan Kitab Suci Nasional dan belum masuk Natal dan Tahun Baru. Mungkin ada janji-janji kepada Tuhan yang belum dipenuhi? Segera bangun dan lakukan. Selalu masih ada kesempatan. (LNG)