Satu Biji Gandum

Renungan Jumat 10 Agustus 2018

Bacaan: 2Kor. 9:6-10Mzm. 112:1-2,5-6,7-8,9Yoh. 12:24-26

MAKNA SATU BIJI GANDUM

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24)

Berbicara tentang  biji, maka kita tidak akan menikmati hasil panenan bila kita membiarkan biji yang kita miliki tetap disimpan dan tidak ditanam. Jadi untuk dapat menikmati buah, hasil panenan, maka biji harus terlebih dahulu jatuh ke dalam tanah dan ditanam. Dalam bacaan Injil hari ini, biji gandum yang dimaksudkan Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya sendiri. Kalau Tuhan Yesus tidak taat sampai mati di kayu salib maka Ia tidak akan “berbuah” artinya tidak ada korban penebusan dosa dan tidak ada keselamatan. Dengan kata lain manusia berdosa akan tetap menanggung akibat dari dosa-dosanya seperti tertulis: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom. 6:23). Tetapi oleh karena Tuhan Yesus mau mengorbankan diri-Nya taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka ada buah yang dihasilkan, yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah, termasuk Anda dan saya.

Yesuslah pelaksana Perjanjian Allah, rencana kasih Allah menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus.

Apakah kita cukup dengan hanya mengucap syukur kepada Tuhan atas segala pengorbanan-Nya? Tidak cukup! Yesus menghendaki kita sebagai umat tebusan-Nya juga melakukan seperti apa yang telah Dia lakukan untuk kita yaitu menghasilkan buah.

Yoh 15:16 → “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”

Agar dapat berbuah maka kita pun harus mengikuti teladan Tuhan Yesus yaitu menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Artinya kita pun harus bersedia untuk berkorban dengan meninggalkan kehidupan lama kita dan sepenuhnya mengenakan kehidupan Kristus. Yesus hidup dalam diri kita dan kita hidup dalam ketaatan kepada perintah dan bimbingan-Nya sehingga Kerajaan Allah semakin dikenal luas dan semakin banyak orang menjadi percaya dan diselamatkan.

Dengan mengambil contoh biji gandum, Yesus mau mengingatkan kita, para murid-Nya untuk menjadi gandum Kristus yang siap siaga “jatuh ke tanah dan mati”, supaya menghasilkan buah. Jaminan dan peneguhan Yesus: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup kekal”.

Pertanyaannya: di zaman sekarang masih adakah “biji gandum” yang mau mati?

Dalam arti mau berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, peka terhadap kebutuhan orang lain di sekitar kita, baik jasmani maupun rohani.

Justru di sinilah tantangan bagi murid-murid Kristus, apakah kita ini pengikut Kristus yang setia, yang siap sedia setiap saat melakukan perintah-Nya ataukah kita masih tetap sebagai manusia dunia dengan segala macam pertimbangan.

Beriman kepada Yesus Kristus berarti memiliki komitmen pribadi untuk melayani. Siap sedia untuk melayani dan mengikut Dia, selalu ada di mana Dia berada. Dan bagi mereka-mereka inilah Yesus berkata : “Barangsiapa melayani Aku ia akan dihormati Bapa”.

Permenungan:

Kita semua tahu bahwa menjadi “biji gandum” ini tidaklah semudah membalikkan tangan tetapi sebagai murid Kristus kita harus siap menuju ke arah sana seperti yang Yesus inginkan. Dengan kekuatan dan kuasa manusia semua itu hanya akan menjadi sebuah teori. Karena hanya kuasa dan kekuatan Allah yang akan memampukan kita. Hanya bersama Dia. (BD)

Hasil gambar untuk john 12:24