Roti Hidup

Renungan Minggu 19 Agustus 2018

Bacaan: Ams. 9:1-6Mzm. 34:2-3,10-11,12-13,14-15Ef. 5:15-20Yoh. 6:51-58

ROTI HIDUP

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. (Yoh. 6:56-57)

Hati saya bersyukur mendengar firman Tuhan hari ini karena Tuhan Yesus memperkenalkan diri sebagai roti hidup (Yoh. 6:51). Saya dapat menikmati-Nya sebagai makanan roti yang hidup dalam setiap Perayaan Ekaristi. Melalui perjumpaan yang nyata dengan diri-Nya di dalam setiap Perayaan Ekaristi itulah, saya dapat mengalami-Nya sebagai Allah yang hidup.

Dan yang membuat saya kembali bersyukur adalah Dia tidak hanya ingin diri-Nya dinikmati sebagai roti hidup, namun Dia ingin agar saya dapat tinggal di dalam-Nya, setiap saat mengalami kehadiran-Nya. Dengan tinggal di dalam Dia, maka Dia tinggal di dalam diri saya, sehingga saya menjadi hidup. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. (Yoh. 6:56-57).

Saat saya membaca dan mendengar firman ini, saya teringat kembali sukacita yang luar biasa yang saya alami di retret SEP gelombang pertama. Di dalam retret itu, saya dan semua peserta diajak tinggal di dalam Dia. Saya benar-benar terharu dan merasakan kehadiran-Nya yang nyata  menyertai setiap peserta retret, setiap anggota panitia retret, pembicara retret, setiap pengajar SEP, Rm. Jelantik (Romo Moderator SEP), setiap sesi acara retret itu. Saya melihat dengan sangat nyata, Dia hadir memberi jalan keluar terhadap setiap kesulitan – masalah yang dihadapi para panitia retret tepat pada waktunya.

Juga kehadiran-Nya yang nyata, yang luar biasa saya rasakan lewat Pak Vincent dan Pak Agus Handoyo sebagai pembicara retret gelombang pertama. Dia mengajak saya dan para peserta retret mengalami diri-Nya, membiarkan diri kita dikasihi-Nya, sehingga kita dapat mengasihi sesama kita seperti Dia mengasihi kita. Sangat jelas Dia katakan dalam hati saya dengan kalimat yang sangat singkat, “Dalam keadaan apapun, tetap tinggallah di dalam-Ku. Aku tidak akan pernah meninggalkan engkau semua”.  

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih untuk firman yang Engkau berikan pada hari ini. Pagi ini Engkau sendiri telah menyatakan diri-Mu sebagai roti hidup kepada saya dan para sahabat semua. Saya bersyukur karena Engkau sendiri mengajak saya dan para sahabat semua, dalam keadaan apapun untuk tetap tinggal di dalam-Mu agar Engkau dapat tinggal di dalam diri saya dan para sahabat semua. Bimbing kami Tuhan Yesus, agar setiap saat kami semua dapat selalu bersama-Mu dan tidak akan pernah meninggalkan Engkau di dalam keadaan apapun juga. Amin.

Tuhan memberkati. (Set)

Hasil gambar untuk John 6:56-