Lubang Jarum

Renungan Selasa 21 Agustus 2018, Peringatan Wajib St. Pius

Bacaan: Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab,27cd-28,30,35cd-36abMat. 19:23-30

LUBANG JARUM

Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Mat. 19:24)

Bagi saya dulu ayat ini kedengarannya janggal sekali. Masa unta yang besar bisa masuk lubang jarum yang sangat kecil. Untuk memasukkan benang saja dibutuhkan kejelian dan ujung yang rapi. Ternyata menurut orang Yahudi pintu yang disebut lubang jarum itu adalah pintu yang bentuknya sempit memanjang, berada di tembok pembatas kota dan hanya digunakan pada saat pintu gerbang kota sudah ditutup. Ada sejumlah tentara yang berjaga di situ dan siapa pun yang hendak lewat atau memasukinya, harus diperiksa. Unta, yang pada masa itu biasa dipakai sebagai binatang tunggangan dan angkutan barang, masih bisa melewatinya asal penumpang dan barang-barangnya diturunkan terlebih dahulu. Setelah barang-barang diturunkan, unta juga harus ditarik masuk ke dalam pintu lubang jarum tersebut. Kita tahu bahwa unta adalah binatang yang jinak dan penurut sehingga tanpa diperintah dan dituntun, tidak mungkin akan berjalan masuk dan melewati pintu sempit tersebut.

Yesus menggunakan peristiwa masuknya unta melewati lubang jarum sebagai perbandingan orang masuk ke surga. Bagi-Nya, lebih mudah menarik unta masuk melewati pintu lubang jarum daripada menuntun orang kaya masuk surga. Mengapa? Unta, ketika barang-barang yang melekat di tubuhnya dilepas dan diturunkan, ia diam saja. Ketika dituntun dan ditarik untuk memasuki dan melewati pintu lubang jarum, ia juga mudah dan menurut. Berbeda dengan kita, yang seringkali amat sulit untuk melepaskan apa yang kita miliki, termasuk melepaskan harta kekayaan kita dan mendermakannya kepada yang membutuhkan. Jangankan mendermakan, yang lebih sering kita pikirkan justru bagaimana caranya agar kekayaan dan tabungan kita semakin bertambah. Maka, kita juga sulit untuk diam dan menurut ketika dituntun dan diarahkan oleh Yesus untuk memasuki jalan-Nya sempit dan kadang juga sulit.

Semoga “sindiran” Yesus ini mengena di hati kita sehingga kita mudah untuk melepaskan diri dari berbagai macam ikatan yang membebani dan menghalangi kita untuk berjalan di jalan Tuhan. Semoga kita juga lebih menurut untuk diarahkan dan dituntun oleh Tuhan melewati jalan-Nya, yakni jalan keselamatan.

Doa: Tuhan semoga kami selalu menurut pada bimbingan dan tuntutan-Mu. Berilah kami keberanian dan kerelaan untuk melepaskan dari dari berbagai macam ikatan yang membebani dan menghalangi kami untuk berjalan di jalan-Mu, yakni jalan keselamatan. Amin. (JH).

Gambar terkait