Lepaskanlah

Renungan Kamis 16 Agustus 2018

Bacaan: Yeh. 12:1-12Mzm. 78:56-57,58-59,61-62Mat. 18:21-19:1

LEPASKANLAH

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21)

Suatu kisah nyata seorang gadis yang menderita sakit, sudah dibawa ke dokter tetapi tidak diketemukan penyakitnya. Kondisi gadis ini kian hari kian parah sampai akhirnya dipindah ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap peralatannya. Namun di sana pun tidak ditemukan penyebabnya.

Peristiwa sakitnya si gadis akhirnya terdengar oleh gembalanya, segera bapak pendeta mengunjunginya di rumah sakit, kebetulan pendeta tersebut seorang psikolog. Akhirnya gadis tersebut mau bercerita tentang apa yang sedang dialami bahwa ada yang begitu menekan batinnya.

Gadis itu menumpahkan isi hatinya bahwa ia sangat marah dan benci kepada ibunya yang memaksanya untuk menikah dengan lelaki pilihan ibunya yang sudah barang tentu tidak ia cintai. Ia begitu marah kepada sang ibu, namun ia tidak berani mengutarakan kemarahannya. Ia menyimpan kebencian dan kemarahannya sampai akhirnya dia menderita sakit yang berkepanjangan.

Menyimak cerita itu, tahulah sang gembalanya, bahwa gadis itu telah memendam kebencian dan kemarahan hingga mengalami luka batin yang mengakibatkan fisiknya terganggu. Selanjutnya pak pendeta segera bertandang menemui sang ibu, dia ceritakan bahwa penyebab sakit anak gadisnya bukan karena sakit penyakit, tetapi sakit karena luka batin yang begitu mendalam karena dipaksa menikah oleh ibunya dengan orang yang tidak ia cintai.

Mendengar itu sang ibu sangat terkejut dan menjadi sadar atas kekeliruannya. Ia segera menemui anaknya dan memeluk anaknya sambil menangis penuh penyesalan dan berjanji kepada anak gadisnya bahwa ia tidak akan pernah memaksa lagi kepada anak gadisnya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.

Rekonsiliasi yang begitu mengharukan namun begitu indah, anak dan ibu saling berpelukan, menangis bersama dan saling memaafkan dan mengampuni. Aneh dan sungguh aneh, tak seberapa lama dari rekonsiliasi itu, sang anak gadis berangsur-angsur pulih kesehatannya.

Banyak problema kehidupan yang terjadi karena disebabkan seperti hal yang dialami gadis itu, luka batin, depresi dan akhirnya fisiknya terganggu.

Pengampunan adalah obat mujarab yang selalu didengung-dengungkan oleh Tuhan Yesus. Mungkin problema kehidupan bisa datang bertubi-tubi, berkali-kali dalam perjalanan kehidupan ini, manakala kita tidak bisa melepaskan kebencian, kemarahan, atau bahkan kita lebih suka dan nyaman menyimpannya dalam hati sanubari, niscaya keselamatan jiwa raga kita akan terancam.

Acapkali kita juga seperti Petrus dan bertanya kepada Yesus: “Sampai berapa kali orang itu harus mengampuni? Tujuh kalikah Tuhan?” Jawab Yesus, ” Bukan! Aku berkata kepadamu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Kebencian menutup kelemahan diri dan keterbukaan untuk menerima kelemahan orang lain. Manusia lupa bahwa dirinya punya kelemahan yang memungkinkan berbuat salah dan ia butuh maaf dari orang lain. Mungkin salah dan permintaan maafnya sudah tak terhitung juga. Kalau kita minta diampuni, hendaklah kita juga mau melepas pengampunan kita.

Salam dan doa.

FXST

Hasil gambar untuk let it go