Kemunafikan

Renungan Selasa 28 Agustus 2018, Peringatan Wajib St. Augustinus

Bacaan: 2Tes. 2:1-3a,13b-17Mzm. 96:10,11-12a,12b-13Mat. 23:23-26

KEMUNAFIKAN

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. (Mat. 23:25)

Melalui ayat ini Tuhan Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka terlalu munafik. Mereka mengajarkan apa yang baik dan benar tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. Yesus mengecam ibadat yang penuh dengan kepura-puraan, di mana ibadat dan liturgi mereka rekayasa sedemikian rupa, untuk mengeksploitasi umat. Acara-acara penting dalam hukum taurat mereka abaikan, yaitu keadilan, belaskasih dan kesetiaan, yang berpihak kepada orang-orang kecil dan tertindas, yang membuka peluang hidup yang lebih baik malahan ditiadakan. 

Tuhan Yesus tidak ingin umat-umat yang dikasihi tersesat atau disesatkan oleh ajaran-ajaran yang salah. Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus untuk menyucikan dan mengkuduskan umat kesayangan-Nya tetapi ternyata masih ada orang-orang di sekitar kita yang berniat menyesatkan, menipu, menyebarkan berita bohong, manipulasi dan masih banyak cara untuk menjatuhkan orang di sekitar kita.

Sahabat-sahabatku, sekitar tahun 2004 ketika saya masih menjadi murid Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP), pada suatu hari dalam acara pernikahan kerabat dekat saya di Malang, saya berkenalan dengan seorang Ibu yang secara kebetulan duduk satu meja dengan saya. Saat itu kami berkenalan tidak sengaja dan menjadi akrab. Ibu tersebut menceritakan riwayat imannya yang melompat-lompat dari satu rumah ibadat ke rumah ibadat lain.

Dia bercerita sudah dua tahun dia menjadi umat gereja non Katholik. Ibu itu awalnya adalah pemeluk agama non Kristen, yang mana sejak tahun 2002 dia diajak oleh salah seorang temannya untuk menjadi orang Kristen di gereja non Katholik. Baru satu minggu dia masuk gereja, dia sudah minta dibaptis.  Setelah dibaptis dia aktif sekali dalam kegiatan rohani, paduan suara, mengunjungi orang sakit, kegiatan sosial. Setiap Natal pun dia sibuk dengan kegiatan Natal.

Sampai suatu hari pimpinan gerejanya datang berkunjung ke rumah dan melihat di salah satu sudut rumahnya ada satu patung yang dia beli di Tiongkok ketika ia ke sana beberapa tahun sebelumnya ketika dia masih non Kristiani. Patung itu memang tetap dia pajang di ruang tamunya karena dia merasa hanya di ruang itu yang paling tepat untuk menaruh patung tersebut. Pada patung itu ada tanda tangan dan tanggal pembelian, dengan menggunakan pena yang tidak bisa luntur. 

Saat pemimpin gerejanya melihat patung itu, dia langsung menegur, “Bu, Anda kan sudah menjadi orang Kristen, mengapa masih menyembah berhala?” Ibu itu menjawab, “Tidak Pak, patung itu hanya saya pajang tidak saya sembah sebagai Tuhan.”

Kata pemimpin gerejanya, “Wah, mestinya tidak boleh. Masa di rumah orang Kristen menyimpan atribut agama non Kristen, ini sama dengan penyembahan berhala, coba serahkan pada saya patung itu.”

Singkat cerita, pemimpin gerejanya meminta patung itu untuk diberikan ke pihak yang menurut pemimpin gerejanya itu sesuai. Dalam hati ibu tersebut merasa sayang sekali karena patung itu harganya sangat mahal tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dalam hati dia sangat kecewa.

Beberapa bulan kemudian ibu itu bersama keluarganya berlibur ke Semarang dan singgah di rumah salah seorang kerabat dekatnya. Saat ibu itu bersama keluarganya masuk ke ruang tamu kerabatnya itu dia tertegun melihat sebuah patung yang mirip dengan miliknya yang diambil oleh pemimpin gerejanya. Dia dekati patung itu ternyata di atas paha patung itu tertulis tanda tangannya dan tanggal pembeliannya.

Saat itu dia seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, pikirannya melayang pada pemimpin gerejanya yang selama ini selalu mengkhotbahkan tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran.

Ibu tersebut bertanya pada kerabatnya dari mana dia mendapatkan patung itu, dan oleh kerabatnya dijawab bahwa dia membeli dari seseorang ciri-cirinya mirip dengan pemimpin gerejanya. Waktu itu penjual menawarkan patung tersebut seharga 5 juta rupiah. Sejak kejadian itu, ibu tersebut tidak mau lagi ke gereja tempat dia mengikuti ibadat tetapi dia pindah ke gereja lain karena hatinya sangat kecewa.

Sahabat-sahabatku melalui Matius 23:23-26 Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa sebagai murid Kristus janganlah kita memakai nama Kristus untuk merugikan sesama kita, menyesatkan sesama, menipu sesama maupun menyakiti sesama. Marilah kita senantiasa hidup dalam Roh dan kebenaran agar kita dapat membawa sesama kita ke dalam kebenaran dan keselamatan. Amin. (TFK)

Gambar terkait