Jangan Takut

Renungan Selasa 7 Agustus 2018

Bacaan: Yer. 30:1-2,12-15,18-22Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23Mat. 14:22-36

JANGAN TAKUT

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27)

Sebagai umat Katolik, sangatlah umum kita mendengar di akhir doa ada kata-kata: “kami mohon…”, yang secara spontan biasanya ditanggapi dengan: “kabulkanlah doa kami ya Tuhan…”. Tahukah Anda bahwa kalimat sederhana ini begitu powerful?

Harapan yang begitu kuat dipanjatkan pada Yesus karena kita sungguh yakin dan percaya bahwa pertolongan hanya didapat dari Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12).

Kata “kabulkanlah” mempunyai makna agar Tuhan menyetujui, meluluskan, memper-kenan-kan, meng-iya-kan sesuatu yang kita minta. Berarti pula bahwa ciptaan sedang meminta “Maha Pencipta” untuk mengambil posisi sepihak dengannya. Lalu apa yang terjadi?

Manusia boleh saja berlaku ingkar dan tidak setia, tetapi Yesus tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2Tim. 2:13). Sebab bukankah kita tahu Ia telah berkata kepada kita semua: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga (Mat. 6:25-26).

Yesus berjanji bahwa pemeliharaan-Nya pada manusia itu bersifat ya dan amin. Dengan jalan dan cara-Nya yang dahsyat dan ajaib Ia memelihara bahkan memenuhi segala keperluan kita  menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya (Fil. 4:19).

Tetapi saat ini masalah yang terjadi justru kita berlaku seperti Petrus dengan kehilangan fokus pada Yesus yang memanggilnya berjalan di atas air untuk mendapati-Nya. Ketika Yesus menolong Petrus, Ia berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31). Sebenarnya kita tidak lebih hebat daripada Petrus! Apa yang kita lihat dalam diri Petrus seringkali kita lihat juga dalam diri kita masing-masing. Meminta persetujuan doa dengan ditambah “harus dengan jalanku ya Tuhan” merupakan titik masalah pada pemenuhan janji yang kita jalani bersama Tuhan, karena mata kita hanya melihat sesuatu yang “tidak sesuai dengan jalanku” berada di dalam proses dan kita pun luput melihat siapa sebenarnya Yesus itu.

Maka ucapan Tuhan dengan “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” bukan sekedar mewujud nyatakan suatu permohonan, melainkan juga menuntun kita untuk menyadari bahwa yang mengundang kita untuk datang kepada-Nya adalah Kristus yang bangkit dan sedang mengajak manusia untuk berproses di dalam pemenuhan janji-Nya. Ia akan membebaskan, menyembuhkan, memperkuat diri kita, dan menopang kita terus selagi kita berjalan di atas air kehidupan yang bergelombang akibat badai. Ini adalah janji yang akan terwujud dalam semua orang yang mau berjalan dalam iman.

amdg, vmg.

Hasil gambar untuk walking on water john