Belas Kasihan

Renungan Senin 27 Agustus 2018

Bacaan: 2Tes. 1:1-5,11b-12Mzm. 96:1-2a,2b-3,4-5; Injil Khusus Luk. 7:11-17

BELAS  KASIHAN

Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” (Luk. 7:13)

Sekali peristiwa Yesus pergi ke sebuah kota yang bernama Nain. Ketika Yesus mendekati pintu gerbang kota, terlihat ada orang mati diusung yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda. Melihat janda yang sedang sedih, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan dan Yesus membangkitkan anak laki yang sudah mati itu.

Melalui Injil hari ini, Tuhan mengajarkan kepada saya bahwa sebagai umat Kristiani seharusnya saya memiliki belas kasihan seperti yang dimiliki Yesus tanpa diminta untuk menolong. Yesus tergerak hati-Nya untuk menolong. Yesus memikirkan bagaimana kehidupan ibu janda yang kehilangan anaknya, tidak ada yang menopang hidupnya. Yesus memberikan contoh teladan supaya saya memberi pertolongan kepada orang-orang di sekitar saya. Yaitu menolong apabila saya berkemampuan untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Namun kenyataannya, karena kesibukan pekerjaan sehari-hari, seringkali dorongan untuk menolong menjadi terabaikan. Kesibukan sehari-hari telah membutakan hati saya sehingga pada saat bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, saya merasa iba tetapi itu hanya berhenti sampai pada perasaan iba dan berempati saja dan seringkali saya tunda dan akhirnya terlupakan.

Melakukan dorongan hati karena belas kasihan tidaklah mudah. Pernah suatu hari saya pergi ke kantor dan menjumpai seorang bapak tua yang tidak terawat dan sangat kotor. Bapak tua ini duduk di tepi jalan, di atas trotoar dengan menundukkan kepalanya. Saya sering melihat bapak itu di tempat itu setiap saya berangkat ke kantor. Setiap hari saya melewati bapak tersebut selalu timbul perasaan iba di hati saya dan ada kerinduan untuk membawakan satu bungkus nasi, buah dan air minum. Namun setiap mau berangkat kerja, saya selalu lupa membawakan. Keesokan harinya saya melewati lagi dan timbul perasaan iba dan keinginan untuk membawakan satu bungkus nasi. Namun sekali lagi setiap berangkat saya selalu lupa.

Sampai suatu saat saya bertanya di dalam hati saya, mengapa saya tidak pernah ingat membawakan satu bungkus nasi buat bapak yang ada di tepi jalan itu. Akhirnya saya sadar bahwa saya menganggap bapak itu tidak begitu penting sehingga saya selalu lupa dan bapak itu terabaikan.

Sampai suatu saat saya meminta pertolongan Tuhan untuk  mengingatkan saya membawa satu bungkus nasi. Puji Tuhan dengan segala kesungguhan saya, juga karena pertolongan Tuhan, akhirnya saya  tidak lupa membawakan satu bungkus nasi buat bapak yang ada di pinggir jalan. Ada perasaan bahagia, suka cita, karena saya berhasil untuk mengingat bapak yang kurang beruntung itu.

Terima kasih Tuhan Yesus, ajar saya terus untuk bisa menghargai, menolong dan mengasihi setiap pribadi yang sudah Kau pertemukan dengan saya dalam hidup ini, saya saya bisa terus berbagi. Amin.

Tuhan Yesus memberkati. (Ksm)

Hasil gambar untuk luke 7:13