Penderitaan Yang Mempertemukan

Renungan Senin 9 Juli 2018

Bacaan: Hos. 2:13,14b-15,18-19Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9Mat. 9:18-26

PENDERITAAN YANG MEMPERTEMUKAN DENGAN YESUS

Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. (Mat. 9:22)

Injil ini bercerita tentang seorang wanita yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahaan dan sudah menghabiskan segala miliknya untuk berobat dan akhirnya mengalami kesembuhan setelah menjamah jumbai jubah Yesus.

Yang saya dapatkan dari firman ini adalah bahwa di dalam penderitaan kita bisa berjumpa dengan Tuhan seperti wanita di atas. Dia tidak berputus asa dan terus berusaha mencari jalan keluar bagi masalahnya dan akhirnya Tuhan lewat dan dia mengalami kesembuhan.

Wanita ini bukan orang Kristen, tetapi dia adalah orang yang percaya akan adanya Tuhan. Dia menaruh harapannya pada Allah yang dia percayai. Selama penderitaannya saya percaya dia berdoa memohon kesembuhan pada Tuhan Allahnya. Ketika dia sudah tidak punya apa-apa lagi dia melihat Yesus lewat. Dia belum mengenal Yesus tetapi dia telah mendengar tentang Yesus dan apa yang Yesus dapat lakukan. Dia meng-“iman”-inya. Menaruh “harapan”-nya, dan kasih Tuhan terpancar karena iman itu dan dia mengalami kesembuhan.

Sering kita yang sudah beriman kurang menghayati iman kita, bahwa kita harus selalu menaruh harapan kepada Tuhan yang penuh dengan belas kasih. Saya teringat bahwa dulu setelah dibaptis saya tidak lebih dari seorang Katolik KTP. Saya tahu bahwa Tuhan saya bernama Yesus tetapi hanya sebatas nama, tahu bahwa Dia adalah Allah yang maha kuasa tetapi semuanya hanya di otak saja di mana saya tidak mengenal Dia yang sesungguhnya. Mungkin bisa dikatakan bahwa saya mengenal  Yesus hanya dari kata orang saja dan tidak mengalaminya secara nyata (padahal karya-Nya dalam hidup saya sudah dimulai dari dalam kandungan bahkan sebelum itu, tapi saya tidak mengenal-Nya, karena itu tidak mengenal juga karya-Nya dalam hidup saya).

Saya baru mulai mengenalnya lewat permasalahan dan tantangan-tantangan dalam hidup saya. Baru setelah berkali-kali mengalami pertolongan-Nya saya mulai sadar siapa Tuhan Yesus. Namun tetap saja tanpa pengenalan yang benar, mujizat tinggal mujizat, yang mana sering setelah mengalaminya saya melupakannya dan kembali pada kehidupan penuh dosa kembali.

Baru setelah saya mengalami permasalahan yang berat dan pelik yang tidak kunjung selesai, saya akhirnya dipertemukan dengan hamba Tuhan yang mendorong saya untuk bertumbuh dan belajar untuk mengenal siapa Tuhan kita dengan mendorong masuk sekolah di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP).

Pengalaman iman dan pengenalan akan Tuhan Yesus yang membuat kita semakin mengenal-Nya. Namun semua itu harus dengan usaha di mana kita harus mau belajar, mau menyediakan waktu untuk mengenal-Nya. Tanpa itu semua, kita tidak akan mengenal-Nya dengan benar.

Wanita yang pendarahan itu di dalam penderitaannya tetap berusaha sekuat tenaganya (di mana kita tahu dia sangat lemah karena sakitnya) berusaha melalui kerumunan orang yang berdesak-desakan di sekeliling Yesus adalah hal yang sangat luar biasa sulit dan usahanya yang luar biasa membuahkan hasil. Karena itu pengenalan akan Tuhan harus dengan usaha yang kuat.

Bagaimana dengan kita yang sudah dibaptis, yang tidak mengalami penderitaan seperti wanita itu, apakah kita santai-santai saja? Haruskah kita menunggu penderitaan baru mencari Tuhan dengan lebih serius?

Doa: Tuhan Yesus pekakan hati kami supaya dalam setiap peristiwa dalam hidup, kami semakin mengenal Engkau Allah yang maha kasih. Doronglah hati kami Tuhan, untuk mau terus belajar dan menyediakan waktu mengenal Engkau secara lebih dalam di setiap waktu hidup kami. Kami rindu akan pengenalan yang benar akan Engkau ya Tuhan. Kami mohon jadikanlah hati kami hati seorang murid yang taat dan terus belajar akan Engkau. Amin. (VSH)

Image result for woman bleeding for 12 years