Masih Ada Harapan

Renungan Sabtu 21 Juli 2018

Bacaan: Mi. 2:1-5Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14Mat. 12:14-21

MASIH ADA HARAPAN

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap. (Mat. 12:20-21)

Beberapa tahun terakhir ini, saya tidak pernah mendengar lagi orang bunuh diri karena tidak bisa makan. Walaupun demikian, orang masih belum bebas dari penindasan baik secara rohani yaitu dosa, secara psikis antara lain provokasi, adu domba, fitnah maupun secara materi yaitu, kelaparan, korupsi dan sebagainya.

Sabda Tuhan berbicara bagaimana persekongkolan orang Farisi untuk membunuh Yesus yang berbuat baik yaitu menyembuhkan banyak orang yang salah satunya menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat (Mat. 12: 13). Perbuatan baik Yesus maupun ajaran kebenaran-Nya tidak ada yang mampu menahannya meskipun dalam tekanan, atau ancaman orang Farisi.

Begitu pula yang kita alami. Kecurigaan, penghinaan, maupun penghakiman yang dilontarkan kepada kita janganlah menyurutkan iman dan pelayanan kita kepada Tuhan Yesus. Dalam situasi yang sulit seperti ini, Yesus mengajarkan kepada kita untuk diam, menghindar sementara waktu. Kita tidak perlu berbantah maupun berteriak. Sebagai orang beriman, kita dipanggil agar tidak mudah bereaksi, sebaliknya kita berefleksi, sikap rendah hati, tidak mengeluh, mendoakan mereka dan bersyukur meskipun kita diinjak atau dikucilkan, kita tidak terkulai, meskipun kita lemah, roh kita tidak padam, kita tetap berharap pada Yesus yang lemah lembut sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Sehingga masih ada harapan bagi semua bangsa .

Seperti yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Tiga minggu menjelang hari Raya Paskah, saya difitnah oleh teman dekat saya. Perasaan sedih, kecewa, badan terasa lemas, saya alami. Teman-teman lain meminta saya untuk konfirmasi ke orang tersebut, saya bingung dan ragu, apa yang harus saya lakukan. Kemudian saya refleksikan dan saya bawa dalam doa. Saya bertanya pada Tuhan dalam doa: ”Tuhan, apakah perlu saya konfirmasi ke orang tersebut?” Tuhan hanya menjawab: “Ampuni dia”, dan saya mengatakan, “Tidak bisa Tuhan, karena dia sudah mengenal dan mengerti firman-Mu. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu. Lebih mudah bagi saya mengampuni kesalahan orang yang belum mengenal dan mengerti firman-Mu.” Tuhan mengatakan-Nya lagi kepada saya: ”Justru saat inilah waktunya.” Saya tetap mengatakan: “Tidak bisa. Mohon ampun Tuhan, dalam Tri Hari Suci sampai Hari Raya Paskah ini, saya tidak bisa menerima komuni karena saya belum bisa mengampuni (meskipun sebelum peristiwa ini saya sudah ambil Sakramen Pengampunan dosa).”

Namun enam hari menjelang Kamis putih, Tuhan memberi harapan kepada saya melalui rmimpi. Tuhan berbicara kepada saya: “Nak, bajumu itu sudah putih tetapi masih ada bintik-bintik hitamnya.” Saya langsung terkejut dan bangun tidur pukul dua dini hari, ada perasaan takut mati atau dipanggil Tuhan sebelum saya melepaskan pengampunan. Kemudian saya berdoa mohon ampun kepada Tuhan dan berjanji untuk minta Sakramen Pengampunan dosa. Saya masih punya harapan yaitu dalam Sakramen Pengampuan dosa, saya menceritakan kepada Romo bahwa saya difitnah oleh teman dan saya belum bisa mengampuni dia sepenuhnya. Dalam nasihatnya, Romo mengatakan bahwa: pertama, saya tidak perlu konfirmasi ke orang tersebut (pertanyaan saya kepada Tuhan dijawab melalui Romo pengakuan), kedua, saya harus mengampuni orang tersebut. Saya memohon bantuan Romo untuk mendoakan saya agar saya terbuka terhadap rahmat Tuhan dan dimampukan Roh Kudus untuk melepaskan pengampunan kepada orang yang memfitnah saya.

Puji Tuhan, saya dipulihkan dan dimampukan untuk mengampuni sehingga komuni di Tri Hari Suci boleh saya terima. Kasih, sukacita, damai sejahtera Allah, saya alami. Buluh yang patah terkulai tidak diputuskan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Tuhan Yesus memberkati. (ECMW)

Image result for Matthew 12:20