Kemerdekaan Hati

Renungan Minggu 8 Juli 2018

Bacaan: Yeh. 2:2-5Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-42Kor. 12:7-10Mrk. 6:1-6

KEMERDEKAAN HATI

Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Mrk. 6:3)

Dalam kehidupan ini seringkali terjadi peristiwa-peristiwa yang menimbulkan goresan-goresan luka dalam hati seseorang (Mzm.123:3-4). Luka hati yang diakibatkan perlakuan tidak baik oleh pihak luar, entah berupa penolakan, intimidasi, ketidakadilan, penghinaan, tidak dikasihi, tidak diperhatikan, kekerasan fisik (penganiayaan), pelecehan seksual, penolakan sejak kandungan, kebencian, kepahitan, tekanan dan sebagainya. Dan ketika mulai terluka maka dalam hatinya akan timbul rasa kecewa, benci, sakit hati, pahit, dendam, depresi, tidak bisa mengampuni, tawar, apatis dan akhirnya menjadi ragu, dan sangsi akan kuasa Tuhan.

Injil hari ini mau menyampaikan pesan kepada kita, betapa Yesus menghayati suatu syarat yang paling pokok dalam menjalankan suatu karya pelayanan yaitu kemerdekaan hati atau kebebasan batin. Dalam diri Yesus terpancarlah suatu kemerdekaan batin yang luar biasa. Ia bisa bicara, mengajar dan berbuat dengan bebas sesuai dengan kebenaran yang harus Ia wartakan, yakni Kerajaan Allah. Yesus tidak ambil pusing dengan reaksi dan tanggapan orang. Yesus tidak mencari popularitas atau penggemar. Yesus tidak ambil peduli terhadap pencemaran nama baik-Nya. Ia tidak peduli dengan reaksi orang; menjadi suka atau mengagumi atau sebaliknya marah atau bahkan membenci-Nya. Pada saat berkarya itu, Yesus tidak memilih apa yang menguntungkan posisi-Nya atau apa yang memberikan keuntungan macam-macam hal untuk diri-Nya, entah keuntungan sosial, ekonomis, politis, ataupun psikologis. Yesus hadir dan tampil sesuai dengan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Ia berkarya siang dan malam untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah bangsa-Nya. Di situ Yesus bersikap merdeka atau lepas bebas. Dia lepas bebas dan tidak ambil pusing dengan soal kesuksesan, ketenaran, nama baik, harga diri, kehormatan, dan tetek bengek lain yang biasa dicari orang dunia ini.

Teladan yang bisa kita ambil dari Yesus adalah sikap tenang dan tidak frustasi ketika mengalami penolakan itu. Karena Yesus tetap fokus pada misi-Nya supaya Allah dimuliakan. Sikap Yesus itu membuat diri-Nya “cuek” terhadap gunjingan orang-orang yang tidak menyukai-Nya. Ia tidak butuh dipuji, dikagumi, dan dihargai karena Allah-lah yang seharusnya menerima itu semua. Hati-Nya begitu merdeka.

Sahabat, bagaimana dengan kita? Ketika kita rela bekerja tanpa upah untuk Gereja, kita sudah rela berjam-jam mendekorasi Gereja, kok tanggapan pastor dan teman-teman kurang bagus. Ketika kita sudah bekerja keras untuk menghidupi keluarga, kok mereka tidak bersikap ramah terhadap kita. Dan banyak lagi kekecewaan kita.

Inilah yang seharusnya menjadi bahan permenungan kita. Injil hari ini mengajak kita untuk mengubah paradigma/pola pikir kita yang belum memiliki kemerdekaan hati. Pengalaman ditolak justru membawa berkat ketika kita menyadari pengalaman ditolak sebagai sarana penyerahan diri kepada Allah. Pengalaman ditolak dan pengalaman kerapuhan dapat menjadi titik tolak bagi kesadaran bahwa kita memang harus menyerahkan diri kepada Allah, karena hanya melalui kuasa-Nyalah kita dibawa dalam kemenangan, dan bukan melalui kekuatan kita, “sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor. 12:10b). Oleh karena itu, bersyukurlah betapa kelemahan kita justru membuat kuasa Allah menjadi sempurna dan menjadi nyata. Pengalaman ditolak seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati. Bila kita lemah, justru saat itulah kita mudah merasa bergantung pada Allah dan kita pun menjadi sarana Allah dalam memuliakan Dia. (FHM)

Related image